Category Archives: Kultum Ramadhan 1432 H

Kumpulan artikel ringan sebagai pengisi kultum di bulan ramadhan 1432 H, serta bisa sebagai bacaan selingan kapanpun dan dimanapun :D

Membuka Lembaran Baru Setelah Lebaran Usai

Oleh: Yuyu Yuhannah

Hari Raya Idul Fitri sebagai hari kemenangan dan kebesaran umat Islam telah pergi meninggalkan kita semua. Setelah sebulan lamanya umat Islam ditempa dan diuji tingkat keimanan dan ketakwaan yang dibalas Allah SWT oleh pahala yang berlipat-lipat dan pengampunan dosa, kini bulan sejuta hikmah dan anugerah itu pun telah berlalu.

Pertanyaannya, masihkah tingkat keimanan kita pada bulan-bulan berikutnya selevel dengan saat beribadah puasa pada bulan Ramadhan? Dalam tinjauan terminologi, kata “idul fitri” mengandung dua makna. Pertama, kembali kepada keadaan umat Islam dihalalkan makan dan minum pada siang hari. Kedua, kembali kepada fitrah manusia yang suci setelah sebulan lamanya diuji iman dan takwanya. Ila al-fitroti min al-a’idin wa anil hawa wa as-syayatin min al-fi’zin. Artinya, kita kembali kepada fitrah (suci) dan kita telah menang dari hawa nafsu dan setan.

Hari Raya Idul Fitri mencerminkan tiga sikap yang mesti dimiliki setiap Muslim. Pertama, mempertahankan nilai-nilai kesucian yang diraih umat Islam pada hari fitri. Berlalunya momentum puasa hendaknya tidak dijadikan sebagai kembalinya manusia ke kebiasaan dan perilaku yang jauh dari perintah Allah atau malah dekat dengan segala larangan-Nya.

Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran ayat 102, “Wahai, orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah  kamu mati, kecuali dalam keadaan Muslim.”

Kedua, berharap bahwa Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa umat Islam yang telah lalu dan meminta selalu dibimbing agar dijauhkan dari perbuatan dosa pada kemudian hari. Allah akan mengampuni segala dosa kaum Muslim yang pada bulan Ramadhan melaksanakan ibadah puasa dan derivasinya secara bersungguh-sungguh.

Ketiga, hendaknya melakukan evaluasi dan kontemplasi diri bahwa ibadah puasa kita sudah sesuai dengan apa yang diharapkan Allah SWT. Jangan sampai kita seperti yang disabdakan Nabi SAW, “Banyak sekali orang yang berpuasa, yang puasanya sekadar menahan lapar dan dahaga.”

Dengan berakhirnya Ramadhan, bukan berarti kita mengendorkan kualitas dan kuantitas ibadah kita kepada Allah. Sebaliknya, “sekolah” Ramadhan yang telah berlalu sepatutnya dijadikan sebagai wahana pembelajaran untuk semakin meningkatkan kadar ibadah kita.

Mari, kita sama-sama meraih kemenangan Ramadhan pada Idul Fitri 1431 H. Isi lembaran baru dalam keseharian kita dengan identitas baru sebagai orang yang bertakwa.

Kita bisa memulainya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal. Seperti diriwayatkan Abu Aiyub al-Anshari, Nabi Saw bersabda, barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan diiringi dengan enam hari bulan Syawal, seolah-olah ia telah berpuasa sepanjang masa. Kita tentunya tak bisa menahan Ramadhan selalu bersama kita, tapi semangat Ramadhan sudah semestinya terus kita pelihara.

.

.

.

sumber

Jika Ramadhan telah berlalu : Warisan Ramadhan

Jika Ramadhan telah berlalu. Hari-hari indah yang penuh rahmat, berkah, dan maghfirah itu telah lewat pula. Namun, apakah kita harus mengakhiri pula tujuan ibadah itu, yakni untuk mencapai derajat muttaqien (orang-orang yang takwa)? Apakah untuk mencapai muttaqien hanya diperoleh lewat Ramadhan? Dan apakah kita sudah cukup merasa puas kalau kita memasuki Idul Fitri sebagai pemenang dan terlahir kembali sebagai bayi yang baru lahir? Untuk mencapai derajat muttaqien seperti yang diwajibkan Allah lewat puasa (Q. S. 2:183) bukan semata-mata hanya diperoleh di bulan Ramadhan. Bunyi ayat tersebut (Q. S. 2: 183) memang mewajibkan kita berpuasa (Ramadhan) untuk mencapai takwa. Namun, perlu diingat bahwa ada puasa-puasa maupun ibadah-ibadah lain yang juga dapat mengantarkan kita menjadi muttaqien. Bukankah untuk mencapai ketakwaan (di bulan Ramadhan) itu kita peroleh karena kita melakukan berbagai amalan, di antaranya qiyamul lail, zikir, doa, tilawah Quran, infak, i’tikaf, istighfar, dan amalan saleh lainnya? Jadi untuk mencapai derajat muttaqien tidak cukup hanya dilakukan lewat puasa Ramadhan sebulan penuh sementara amalan-amalan lain terbengkalai.

Karena itu setelah kita berhasil menjalani ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh, sudah seharusnya meneruskan amalan-amalan yang kita lakukan selama bulan Ramadhan itu pada bulan-bulan lainnya. Sebagai misal, setelah berpuasa wajib, kita masih bisa menjalani puasa sunat, seperti puasa Senin-Kamis, puasa Syawwal, puasa pertengahan bulan di bulan-bulan hijriah, dan sebagainya. Kita boleh pilih puasa mana yang ingin kita jalani. Selain itu, kita juga bisa bersedekah memberi makan orang lain, misalnya kepada fukara dan masakin, atau menjamu orang yang berpuasa sunat di masjid-masjid, musalla-musalla, atau di rumah kita? Bukankah orang yang memberi buka kepada orang yang berpuasa, pahalanya sama dengan yang berpuasa?

Di samping itu, kita juga bisa mengkhatamkan Alquran sebulan sekali kalau kita mau melakukannya. Kita bisa memperbanyak doa, zikir, istighfar, dan bersabar di tengah-tengah kesibukan kita. Bahkan, kita bisa menyisihkan waktu malam kita untuk sekadar salat qiyamul lail. Singkatnya, kita bisa melakukan semua amalan yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan pada bulan-bulan lain. Ramadhan biarlah berlalu. Namun janganlah kita lewatkan pula hari-hari pada bulan lain dengan tidak mewarisi amalan-amalan Ramadhan. Kita harus mengupayakan hari-hari sepanjang tahun adalah seolah-olah Ramadhan. Alangkah indahnya hidup ini manakala banyak di antara kita yang menghidupkan Ramadhan sepanjang tahun. Bukankah kita semua ingin mencapai derajat takwa selama hayat masih di kandung badan?

.

.

.

sumber

Matikan TV selama Ramadhan !

JAKARTA(SUMBER BERITA)–Sekretaris Majelis Ulama DKI HM Cholil Nafis menilai tayangan televisi selama bulan puasa sebagian besar masih jauh dari spirit puasa, meski mengambil tema Ramadhan. “Program yang disuguhkan lebih mengedepankan sisi hiburan dan komersialisasi Ramadhan dan puasa daripada spirit puasa itu sendiri,” katanya di Jakarta, Kamis.
.
Menurut Cholil, karena hanya mengedepankan hiburan dan sisi komersial, program acara Ramadan justru semakin jauh dengan spirit puasa Ramadhan.
.
Salah satu spirit puasa Ramadhan, kata Cholil, adalah membangun kepekaan terhadap masalah sosial, sementara program yang ditayangkan di televisi lebih banyak bersifat hura-hura. Untungnya, lanjut wakil ketua Pengurus Pusat Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) itu, meski terbilang minim, masih ada program tayangan yang sesuai dengan spirit Ramadhan, yang juga tidak sedikit penggemarnya. Ia mencontohkan program yang dinilainya sangat bagus yaitu pengajian kitab Tafsir Al Misbah oleh Prof Dr KH M Quraish Shihab. “Acara yang sangat bagus, ya, pengajiannya HM Quraish Shihab, pengajian tafsir Al Misbah. Itu mencerdaskan pemirsa,” katanya.
.
.
Dengan berbagai keutamaan khusus di bulan Ramadhan, secara akal sehat, menghindari tayangan TV yang hampir dominan mengumbar aurat serta tayangan lainnya yang bersifat irrelevan dengan syariah Islam, maka alangkah baiknya kita mengalihkan kegiatan menonton TV tersebut dengan kegiatan alternatif lainnya, terlebih kegiatan tersebut menambah khazanah wawasan, ilm pengentahuan, silaturahim terlebih kegiatan tersebut bernilai ibadah.Ingat hanya 30 hari saja di bulan Ramadhan!
Kegiatan membaca buku-buku agama, bisa dijadikan sebagai sarana alternatif untuk mengisi waktu luang saat ramadhan, selain menambah wawasan, juga dapat menambah kekuatan keimanan kita terhadap Allah SWT dan dapat menjadi bekal untuk mengahadapi pelik sosial dimasa mendatang dengan tuntunan syariah Islam. Selain itu, bersilaturahim menjadi alternatif yang layak dilakukan saat Ramadhan.

Apa pun itu alasannya, tayangan tv menjadi godaan tersendiri bukan? :D