Tag Archives: penelitian tentang eaphone

Hindari ketulian akibat earphone [b.o.research]

Headphone bisa diartikan sebagai sebuah speaker single kecil, yang dipakai dekat dengan telinga, dan dihubungakan ke suatu player musik seperti walkman (jadul), mp3 player hingga sekelas iPod dan sejenis portable player lainya. Persamaan dengan produk sejenis bisa disebut sebagai, stereophone, headset, atau juga earphone (lebih ke  ear-version). Sederhananya almarhum Kasino, menyebut dalam lawakannya sebagai musik ego, karena latar belakang sejarah dari penemuan alat tersebut.

Dibalik ke ke-ego-an tersebut, ternyata earphone memiliki bahaya yang sangat-sangat menyeramkan, Ya~ Ketulian. Namun, terlalu banyak dari kita yang seolah-olah mengabaikan alias cuek bebek seolah-olah ini hanya kabar burung bahkan cenderung menganggap sebagai mitos, terlebih karena kita bisa merasa nyaman ketika menggunakan earphone, sehingga masalah yang begitu penting, yaitu masalah pendengaran pun terabaikan.

Kehilangan pendengaran adalah jenis gangguan tanpa rasa sakit dan terjadi secara bertahap dari awalnya. Jadi kita tidak memperhatikan tahapan itu pada awalnya, kecuali mungkin bila ada yang bergetar di telinga yang dikenal sebagai tinnitus.

ear canal diagram

Beberapa research yang saya temukan menyatakan bahwa :

Menurut penelitian di North Western University, earphone yang dipakai dekat sekali dengan gendang telinga dapat memperkeras suara sebanyak 6 sampai 9 db. Padahal suara yang dihasilkan iPod bisa mencapai 115 db. Lebih dari setengah murid SMA menjadi obyek penelitian, mereka mengalami sedikitnya satu gejala penurunan fungis pendengaran karena memiliki kebiasaan mendengarkan iPod lewat earphone dengan volume keras.

Tanda bahaya seseorang mengalami suatu gangguan pendengaran jika orang lain sering menganggap suara televisi yang kita setel terlalu keras, kita sering kesulitan mendengar orang berbicara pada kita di seberang ruangan, sering mengalami kesulitan untuk memahami perkataan orang yang di belakangnya banyak suara, atau kita pernah mengalami infeksi telinga atau telinga bernanah.

Dean Garstecki, ahli audio dari Northwestern University tersebut juga mengatakan di bulan Desember lalu : “Kami melihat jenis kehilangan pendengaran terjadi di usia yang lebih muda di antara kaum dewasa. Hanya sayangnya, earphone “sumpalan telinga” ini lebih disukai oleh penikmat musik padahal dapat menyebabkan kehilangan pendengaran. Garstecki mengatakan earphone model “sumpalan telinga” yang dimasukkan pada saluran pendengaran akan lebih fokus daripada suara sekeliling dan dapat mendorong suara dengan intensitas 6 hingga 9 desibel”.!

Menurut majalah Newsweek pada tahun 2008, menyebutkan bahwa lebih dari 28 juta orang Amerika mengalami kehilangan pendengaran pada tingkat tertentu dan jumlahnya diperkirakan terus meningkat hingga mencapai 78 juta pada tahun 2030. Sebuah sumber misalnya mengatakan bahwa,telinga yang terekspos suara diatas 85dB dapat mengakibatkan kehilangan pendengaran permanen, tergantung tingkat volume suara dan berapa lama mendengarkan.  Penelitian yang dilakukan oleh Mr.Brian J.Fligor, mengatakan bahwa semakin dekat sumber suara ke gendang telinga maka semakin tinggi tingkat suara dan lebih relatif berisiko kerusakan telinga di bandingkan headphone.

Kemudian berdasarkan penemuan Komnas Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian, hal ini telah dialami oleh beberapa remaja yang menggunakan ‘earphone’ pada alat pemutar musik dalam pesawat dari Bangkok ke Jakarta dan dari Amerika ke Jakarta. “Saat sampai di Bandara Cengkareng, telinga mereka menjadi tuli dengan derajat ketulian 110 decibel (db). Sedangkan normal pendengaran kita 0-25 db,” kata Ketua Komnas Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian, Damayanti Soetjipto pada pencanangan Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran di SDN 05 Rawasari, Jakarta Pusat, Rabu 3 Maret 2010. Menurutnya, jika telah terjadi gangguan seperti ini akan sulit untuk diobati dan disembuhkan. Bahkan hal terburuk yang akan terjadi adalah mengalami tuli permanen. Pengobatan yang dilakukan pun hanya bisa mengembalikan derajat ketulian menjadi 55 db dan ini termasuk dalam kategori ketulian derajat sedang-berat yang tidak akan mungkin kembali normal.

Dan perlu diketahui, gejala awal gangguan ini hanya di nada tinggi sehingga sering tidak dirasakan karena umumnya kita bercakap-cakap dalam nada rendah. Setelah semua frekwensi terkena, baru terasa bahwa pendengaran terganggu dan sudah terlambat untuk diobati.

Menurut hasil penelitian Jenny Bashiruddin, yang juga ahli THT, efek bising ini memang luar biasa. “Tak ada yang menyadari, misalnya, pusat permainan anak-anak di mal juga sumber bising berbahaya, karena tingkat kebisingannya mencapai 90-95 desibel,” kata Jenny, yang melakukan penelitian efek bising di berbagai tempat selama 2007. Dengan tingkat suara setinggi itu, anak-anak seharusnya hanya boleh tinggal satu-dua jam. Jika lebih lama dari itu, akan terjadi kelelahan koklea (rumah siput), yang berperan penting dalam proses pendengaran. Kelelahan koklea yang terjadi terus-menerus dan tak segera ditangani dapat menyebabkan gangguan pendengaran menetap.

Menurut Jenny, makin sering dan lama diserbu kebisingan, makin cepat berkurang masa seseorang mampu mendengar secara normal. Alhasil, tuli pun makin dini menyerang orang.

Orang yang mengalami gangguan terhadap pendengarannya, biasanya harus melakukan terapi hiperbalik dan diberi obat-obatan khusus, sehingga tingkat ketuliannya berkurang, tetapi tidak sembuh. Sebab, yang rusak adalah sel rambut pada organ telinga bagian dalam yang berfungsi menangkap rangsangan atau frekuensi suara. Bila bagian ini sudah terganggu dan rusak, tak akan bisa kembali normal.

.

.

Apa itu dB ?

Desibel (dB) adalah skala logaritma, seperti bahwa 40 desibel adalah 100 kali lebih kuat dari 20 desibel. Beberapa jenis suara yang umum :

  • 20 dB disebut bisik-bisik
  • 60 dB disebut percakapan normal
  • 100 dB disebut gergaji mesin
  • 120 dB disamakan dengan konser musim rock
  • 140 dB disamakan dengan mesin jet
  • 180 db disamakan dengan petasan

Panjangnya ekspos pada telinga adalah faktor penting dalam kehilangannya pendengaran. Tingkat suara 100 dB secara konstan dapat menyebabkan kerusakan setelah 2 jam, ini berdasarkan AHRF. Anda tidak akan ingin mengalami 140 dB bahkan untuk satu detik saja.

Tingkat kebisingan dalam satuan dB

Tahu ngak, batas aman tingkat kekerasan suara yang boleh didengarkan manusia adalah 85 desibel (db) (desibel adalah suatu pengukuran tingkat kebisingan suara) dalam jangka waktu delapan jam. Sebagai perbandingan, percakapan kita sehari-hari dan dering suara telepon memiliki tingkat kekerasan suara 60 db.

.

Normal pendengaran manusia berkisar antara 0-25 db. Orang yang mengalami gangguan pendengaran hingga 100db hanya bisa mengembalikan derajat ketulian menjadi 55 db dan ini termasuk dalam kategori ketulian derajat sedang-berat yang tidak akan mungkin kembali normal.

Dan perlu diketahui, gejala awal gangguan ini hanya di nada tinggi sehingga sering tidak dirasakan karena umumnya kita bercakap-cakap dalam nada rendah. Setelah semua frekwensi terkena, baru terasa bahwa pendengaran terganggu dan sudah terlambat untuk diobati.

.

Beberapa tips yang harus dilakukan jika memang kita ga bisa lepas dari gadget yang satu ini ialah :

  • Hindari mendengarkan musik dengan volume maksimal. Yang paling penting, jangan sampai kita memasang volume keras hanya untuk menghilangkan suara dibelakang, contoh, supaya kita tidak mendengar suara lalu lintas atau kendaraan. Ngak mau kan kita tuli gara-gara earphone ? Terlebih jika earphone kita gunakan pada saat berkendaraan bukan hanya tuli yang didapat nantinya, tapi juga kecelakaan berkendara karena mengabaikan sinyal suara dengan pengemudi lain.
  • Kalau masih ingin mendengar musik keras-keras, batas waktunya dikurangi, misalnya hanya 2 jam atau kurang dari itu. Jika berada di tempat bising, misalnya tempat kerja yang bising suara, pakailah earplug untuk menahan bunyi.
  • Yang perlu kita ketahui, olahraga dengan menggunakan earphone juga berbahaya buat pendengaran dan dapat mempercepat gangguan pendengaran hingga 2 kali lipat.
  • Volume tidak boleh lebih dari 80 db atau tombol volume dipasang pada 50-60 % total volume.
  • Jangan terlalu lama mendengarkan musik melalui earphone, apalagi terus menerus. Beri istirahat telinga setiap ½ -1 jam. Sebab jika organ dalam koklea merasa capek, pendengaran bisa mengalami rusak permanen.
  • Gunakan alat pemutar musik yang memiliki volume control (umumnya sudah ada).
  • Sebisa mungkin Hindari pemakaian alat pemutar musik dalam pesawat terbang atau pada lingkungan ramai, sebab di situasi itu Anda cenderung menaikkan volume yang akan merusak pendengaran.
  • Mr.Brian J. Fligor menyarankan bahwa penggunaan jangan melebihi satu jam per hari dengan volume tingkat 6 dari skala 10. Sangat dianjurkan untuk mengecilkan volume suara dan berikan kesempatan telinga beristirahat.
  • Efek yang ditimbulkan oleh earphone akan semakin buruk jika si pemakai cenderung menggeber volume keras-keras agar telinga mereka tidak terganggu suara berisik di sekitarnya. Seperti jika digunakan dikendaraan, termasuk pesawat dan kereta api.
  • Dan seterusnya dari kebijakan kita masing-masing.

Apa pun jenis dan merek ear-set-phone yang kita sumpalkan ke telinga ketika, ada baiknya kita lebih bijak dalam durasi, volume dan lokasi pemakaian earphone, jangan sampai menyesal kelak demi kesenangan sesaat. Dan sepertinya sekali lagi, tidak ada egois yang tidak memberikan dampak negatif.

.

.

.

.

disusun dr berbagai sumber : tqar :)