Inspirasi Ramadhan 1436 H

Saudara pembaca yang budiman, kami meyakini jika anda sampai kepada beberapa tulisan sederhana kami ini anda adalah pribadi yang mengharapkan ridha Illahi sebagai penyambung hikmah quran yang disampaikan dalam bentuk dakwah apa pun itu metodenya, entah di masjid, tempat umum, rumah atau sarana lain tatkala atmosfer ramadhan menyeruak maka berlimpah pahala diraih dan salah satunya ialah melalui kotak amal jariah khususnya ketika kita melaksanakan ibadah tarawih di masjid tercinta dimanapun berada.
Kami terinspirasi saat berniat bertarawih ingin rasanya setiap malam menyisihkan uang untuk kotak amal jariyah masjid. Bayangkan jika di bulan biasa pahala berdasarkan hadist bernilai 700 kali lipat, sedangkan dibulan ramadhan ibadah sunnah pun bernilai ibadah wajib.
Namun, terkadang kita lupa membawa uang tersebut dikarekan sesuatu hal yang bermacam2 atau malah kita merasa sedikit rugi menunda nanti dan nanti.
Untuk itu, kami mencoba melahirkan sebuah produk kerajinan , berharap memberikan motivasi setidaknya mengingatkan atau memberi semangat agar tiap malam tarawih kita senantiasa beramal jariyah khususnya dalam hal ini di masjid.
Produk sederhana ini berupa dompet mini yang praktis namun memiliki nilai bonafide tinggi karena terbuat dari kulit sapi, elegan dan mewah. Hal tersebut ditujukan untuk memotivasi niat tulus bukan untuk riya (wallahualam), pun berharap selalu dipakai dari ramadhan satu ke ramadhan berikutnya.
Sekali lagi pembaca yang budiman ini, ini bukanlah semata promosi, hanya saja segmen produk ini benar adanya merupakan inspirasi bulan Ramadhan berkah. Sudah ada beberapa yang memesan namun memang tujuannya lain, yakni sebagai dompet kartu nama biasa. Maka alangkah senangnya jika kami menerima pesanan dari pribadi-pribadi yang terinspirasi oleh ramadhan berkah 1436 H melalui blog ini.
Jika Pembaca berkenan silahkan berkunjung ke halaman ini : Dompet tarawih inspirasi ramadhan.
Mohon maaf bila kurang berkenan.
Semoga segala amal ibadah yang kita jalani di bulan penuh pahala ini menjadi nilai ivestasi dan kenangan indah saat kira di surga-Nya kelak. Aaamiiin ya robbal aalamiin.

Rasulullah dan Istri-istrinya [bagian 2/2]

“Dengan bersikap tawadu kepada istri, mempersilahkan lutut beliau sebagai tumpuan, membantu pekerjaan rumah, membahagiakan istri, sama sekali tidak mengurangi derajat dan kedudukan beliau”.

____________________________________________

Rasulullah tidak melewatkan kesempatan sedikitpun kecuali beliau manfaatkan untuk membahagiakan dan menyenangkan istri melalui hal-hal yang dibolehkan.

Aisyah r.a. mengisahkan :

Pada suatu ketika aku ikut bersama Rasulullah saw dalam sebuah lawatan. Pada waktu itu aku masih seorang gadis yang ramping. Beliau memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Mereka pun berangkat mendahului kami. Kemudian beliau berkata kepadaku: “Kemarilah!” sekarang kita berlomba berlari”. Aku pun meladeninya dan akhirnya aku dapat mengungguli beliau. Beliau hanya diam saja atas keunggulanku tadi hingga pada kesempatan lain, ketika aku sudah agak gemuk, aku ikut bersama beliau dalam sebuah lawatan. Beliau memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Kemudian beliau menantangku berlomba kembali. Dan akhirnya beliau dapat mengungguliku. Beliau tertawa seraya berkata: “Inilah penebus kekalahan yang lalu!” (H.R. Ahmad).

Sungguh merupakan sebuah bentuk permainan yang sangat lembut dan sebuah perhatian yang sangat besar . beliau perintahkan rombongan untuk berangkat lebih dahulu agar beliau dapat menghibur hati sang istri dengan mengajaknya lomba berlari. Kemudian beliau memadukan permainan yang lalu dengan yang baru, beliau berkata : “Inilah penebus kekalahan yang lalu!”

Bagi mereka  yang sering bepergian melanglang buana serta memperhatikan keadaan orang-orang yang terpandang pada tiap-tiap kaum, pasti akan takjub terhadap perbuatan Rasulullah saw. Beliau adalah Nabi yang mulia, pemimpin yang selalu berjaya, keturunan terhormat suku Quraisy dan Bani Hasyim. Pada saat-saat kejayaan, beliau kembali dari sebuah peperangan dengan membawa kemenangan bersama rombongan pasukan besar. Meskipun demikian, beliau tetap seorang yang penuh kasih sayang dan rendah hati terhadap istri-istri beliau para Ummahatul Mukminin r.a. Kedudukan beliau sebagai pemimpin pasukan, perjalan panjang yang ditempuh, serta kemenangan yang dirain di medan pertempuran, tidak membuat beliau lupa bahwa beliau didampingi istri-istri kaum hawa yang lemah serta membutuhkan sentuhan lembut dan bisikan manja. Agar dapat menghapus beban berat perjalan yang sangat meletihkan.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa ketika Rasulullah saw kembali dari peperangan Khaibar, beliau menikahi Shafiyyah binti Huyaiy r.a. Beliau mengulurkan tirai di dekat unta yang akan ditungganginya untuk melindungi Shafiyyah r.a dari pandangan orang. Kemudian beliau duduk bertumpu pada lutut di sisi unta tersebut, dan mempersilahkan Shafiyyah r.a untuk naik ke atas unta dengan bertumpu pada lutut beliau.

Pemandangan seperti ini memeberikan kesan begitu mendalam yang menunjukkan ketawaduan beliau. Rasulullah selaku pemimpin yang berjaya dan seorang Nabi yang diutus memberikan teladan kepada umatnya. Dengan bersikap tawadu kepada istri, mempersilahkan lutut beliau sebagai tumpuan, membantu pekerjaan rumah, membahagiakan istri, sama sekali tidak mengurangi derajat dan kedudukan beliau.

Sumber: 24 jam bersama Rasulullah : Abu Aqila, lebih lengkap dengan membeli bukunya.

Rasulullah dan Istri-istrinya [bagian 1/2]

Sampai-sampai beliau pernah mengajak Aisya Ummul Mukminin r.a berlomba lari untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang beliau terhadapnya.

____________________________________________

Keberadaan Rasulullah saw sebagai pemimpin, setiap harinya tersibukkan dengan beragam persoalan umat, mengurusi dan membimbing mereka. Namun hal itu tidak menjadi alasan beliau untuk tidak meluangkan waktu membantu istrinya dirumah. Bahkan didapati beliau adalah orang yang perhatian terhadap pekerjaan di dalam rumah, sebagaimana persaksian Aisyah r.a ketika ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullahsaw di dalam rumah. Aisyah r.a mengatakan :

“Beliau biasa membantu istrinya. Bila datang waktu shalat beliau pun keluara untuk menunaikannya.” (H.R Bukhari)

Beliau bahkan ikut turun tangan untuk meringankan pekerjaan yang ada, seperti perkataan Aisyah r.a. :

“Beliau manusia sebagaimana manusia yang lain. Beliau membersihkan pakainnya, memerah susu kambingnya, dan melayani dirinya sendiri”. (H.R Bukhari)

Demikianlah contoh sebuah ketawaduan dan sikap rendah hati (tidak takabur) serta tidak memberatkan orang lain. Beliau turut mengerjakan dan membantu pekerjaan rumah tangga. Seorang hamba Allah yang terpilih tidaklah segan mengerjakan itu semua.

Sifat penuh pengertian, kelembutan, kesabaran dan mau memaklumi keadaan istri amat lekat pada diri Rasulullah. Rasulullah saw sangat penyayang, penuh kasih, berakhlak bagus , dan bergaul dengan baik terhadap keluarga, istri dan selain mereka.

Nabi Muhammad saw sangat baik hubungannya dengan istri beliau. Wajahnya senantiasa berseri-seri, suka bersenda gurau dan bercumbu rayu. Beliau selalu bersikap lembut dan melapangkan mereka dalam hal nafkah, serta tertawa bersama. Sampai-sampai beliau pernah mengajak Aisya Ummul Mukminin r.a berlomba lari untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang beliau terhadapnya.

Rasulullah saw memiliki etika berumah tangga yang paling mulia dan sederhana. Beliau selaku Nabi umat ini yang paling sempurna akhlaknya dan paling tinggu derajatnya telah memberikan sebuah contoh yang berharga. Beliau selalu berlaku baik kepada sang istri dan dalah hal kerendahan hati, serta dalam hal mengetahui keinginan dan kecemburuan wanita. Beliau menempatkan mereka pada kedudukan yang diidam-idamkan oleh seluruh kaum hawa. Yaitu menjadi seorang istru yang memiliki kedudukan terhormat di samping suaminya.

Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu menjelaskan dengan gamblang tingginya kedudukan kaum wanita di sisi beliau. Kaum hawa memiliki kedudukan yang agung dan derajat yang tinggi. Rasulullah pernah menjawab pertanyaa ‘Amr bin Al-`ash r.a seputar masalah ini. Lalu beliau menjelaskan kepadanya bahwa mencintai istri bukanlah suatu hal yang tabu bagi seorang lelaki yang normal.

Amr bin Al-`Ash r.a pernah bertanya kepada Rasulullah saw : “Siapakan orang yang paling engkau cintai ?” beliau menjawab: “Aisyah!” (Muttafaq ’alaih)

Barangsiapa yang mengidamkan kebahagiaan rumah tangga, hendaklah ia memperhatikan kisah-kisah ‘Aisyah r.a bersama Rasulullah. Lihatlah kiat-kiat Rasulullah dalam membahagiakan “Aisyah r.a.

Dari ‘Aisyah r.a ia berkata :

“Aku biasa mandi berdua bersama Rasulullah saw dari satu bejana.” (H.R. Bukhari)

Diantara kemulian akhlah Rasulullah saw dan keharmonisan rumah tangga beliau ialah memanggil `Aisyah r.a dengan nama kesayangan dan mengabarkan kepadanya berita yang membuat hatinya gembira.

Asiyah r.a menuturkan : Pada suatu haru Rasulullah saw berkata kepadanya :

Wahai ‘Aisyi (panggilan kesayangan ‘Aisyah r.a), Malaikat Jibril as tadi menyampaikan salam buatmu” (Muttaq ‘alaih)

Rasulullah tidak melewatkan kesempatan sedikitpun kecuali beliau manfaatkan untuk membahagiakan dan menyenangkan istri melalui hal-hal yang dibolehkan.

sumber:lihat di bagian 2

Rasulullah dan Istri-istrinya [bagian 2/2]

Berjamaah – Yusuf Mansur view point

Oleh: Ustaz Yusuf Mansur

Islam memerintahkan pemeluknya untuk berjamaah. Tidak hanya dalam shalat. Tapi juga dalam ekonomi dan lain-lain hal, termasuk makan. Innal barakata ma’al jamaa’ah, sesungguhnya keberkahan itu ada di dalam kebersamaan.
Shalat sendiri, beda dengan shalat berjamaah. Jika berjamaah, beda 27 derajat. 27 kali lipat dapatnya. Bahkan istimewanya, siapa yang shalatnya lebih bagus, baik dalam ilmu, rasa, keikhlasan, maka derajat dia yang dipakaikan ke semua yang ada di dalam shalat berjamaah tersebut.
Dapat pula pahala ikutan lain-lainnya sebab shalat berjamaah. 40 orang yang berdoa, maka dikabulkan itu doa. Berapa kalo kita kemudian berjamaah dalam masjid yang jamaahnya mencapai lipatan 40?
Sebab berjamaah, maka dapat pahala melangkah ke masjid, dapat pahala jika datang ke masjid udah dalam keadaan berwudhu, bisa dapat pahala tahiyyatul masjid, qobliyah ba’diyah, zikir, sesuatu yang mungkin tidak dapat kita laksanakan manakala gak berjamaah dan tidak ke masjid.
Bersedekah juga begitu. Begitu berjamaah, maka Rp 20 ribu, Rp 50 ribu, Rp 100 ribu jadi sesuatu yang besar. Jika sebelumnya 20 ribu, bisa dapat dua bungkus nasi plus lauk sederhana, 50 ribu dapat lima bungkus nasi plus lauk sederhana, 100 ribu bisa dapat 10 nasi bungkus plus lauk sederhana.
Maka bila satu juta orang berkumpul, bersedekah Rp 20 ribu, Rp 50 ribu, Rp 100 ribu? Dapat berapa? Dapat apa? Dapat ribuan hektar sawah, yang bisa kemudian sedekahnya bisa bergulir dan bergulir.
Bisa punya peternakan sapi yang gak bergantung sama import, bisa membeli perahu dan membangun pasar ikannya sendiri, bisa membuka perkebunan yang tidak dikontrol harganya oleh pasar.
Sayang, ummat kita belom dimaksimalkan potensi berjamaahnya. Potensi ummat, terutama dari sisi berjamaah ini, baru dimanfaatkan oleh segelintir orang.
Misal, kebutuhan orang untuk makan, udah kemudian dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk berjualan. Bukan kemudian pasarnya yang dimiliki oleh masyarakat.
Salah satu atau mungkin banyak properti besar, dikucurkan dana hingga ratusan milyar, dari sebuah bank. Itu juga pemanfaatan yang boleh jadi positif, boleh jadi tetap negatif, untuk ekonomi jangka pendek dan panjang.

Ulasannya bukan di sini tentunya. Seperti satu berita bahwa satu bank memberi Rp 600 milyar untuk satu kelompok properti besar. Apa yang saya baca?
Jutaan ummat berkumpul, menabung. Lalu tabungan mereka digunakan untuk membiayai properti tersebut, yang kelak properti ini justru menggusur masyarakat penabung yang notabene rakyat kecil, yang justru tidak akan mampu membeli properti mereka. Duit mereka membunuh mereka sendiri.
Tapi saya gak mau jadi the loser. Sisi positifnya jelas banyak. Pasti ada keuntungannya. Jangka pendeknya, bisa membuka lapangan pekerjaan lebih banyak.

Kemudian bila pajaknya cakep pengelolaannya, bisa dipakai untuk ummat yang lebih banyak. Tappiii… Entahlah.
Berjamaah, sungguh Allah dan Rasul-Nya menyeru, bukan hanya di urusan shalat. Ayo dong, di semua urusan. Bahkan di dalam urusan politik. Ummat bercerai berai gak keruan.
Visi misi yang udah gak sama lagi, hingga kemudian noda perilaku dan karakter, menyempurnakan ketidaksolidan suara. Akhirnya suara banyak dipegang sama yang tidak lagi membela Allah dan Rasul-Nya, agama-Nya, dan ummat Islam.
Di urusan ekonomi, saya mengingatkan diri saya, dan sebanyak-banyaknya orang, sesungguhnya kita masih teramat kuat.

Sebab kita ini banyak. Sungguh, kita ini banyak. Banyak banget. Bener-bener banyak. Mudah-mudahan kita ini sadar.
Saya mencoba mengumpulkan baru 15 ribu orang saja, dan itupun baru tiga ribu orang kurang lebihnya, tapi sudah bisa mentake-over hotel Siti, yang didedikasikan buat hotel haji dan umrah sebagai pasar utamanya.
Dua tower, masing-masing 12 lantai, 300 kamar. Baru 15 ribu orang, dan sekali lagi, itu pun baru tiga ribu orang. Gimana jutaan ummat? Perusahaan apa yang tidak bisa dibeli ulang?
Bahkan perusahaan asing sekalipun, di negara mereka langsung, bisa dibeli oleh kita. Semoga kita semua diizinkan Allah bersatu, berjamaah. Diberi-Nya ilmu, kesempatan, kekuatan, termasuk juga ridha-Nya. Salam.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/06/16/mohi9f-berjamaah

Materi Ramadhan 1434 H

Under Construction

Kajian Sederhana Ramadhan 1434 H

Para pembaca yang budiman, alangkah bersyukurnya kita apabila di tahun 2013 ini kita kembali dipertemukan dengan bulan penyucian diri, bulan penuh hadiah besar, bulan dengan teramat lebarnya ampunan bagi dosa yang telah kita perbuat, bulan untuk kita lebih dekat dengan Allah SWT untuk berharap kasih sayang dari-Nya.

Termasuk di dalamnya terdapat kemudahan dalam meraih wawasan keagamaan, kesempatan teramat dekat di sekitar kita, di masjid, di media sosial, di tempat kita bekerja, bahkan dimana pun kita berada suasana terasa religius, berbeda dengan situasi umum di bulan lainnya. Termasuk dalam halaman sederhana ini, kami mencoba menguraikan sedikit kajian/wawasan singkat keislaman seperti di bawah ini, semoga bermanfaat :

Tujuh Dosa yang Membinasakan

 

Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘’Tinggalkanlah tujuh dosa yang akan membinasakan. Sahabat bertanya, ‘’Yaa Rasulullah, apakah dosa-dosa itu? Jawab Nabi SAW, ‘’Syirik mempersekutukan Allah Swt, melakukan sihir, membunuh jiwa manusia yang telah diharamkan Allah Swt kecuali dengan hak, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari perang jihad, menuduh zina pada wanita mu’minat,’’ (HR Bukhari Muslim)

Dalam hadis di atas, Abu Hurairah menyebut tujuh dosa yang membinasakan. Dikatakan membinasakan karena dari dosa tersebut bukan hanya merusak keimanan diri sendiri, namun juga ada hak-hak muslim yang dirusak oleh si pembuat dosa. Dosa pertama yang tersebut dalam hadits di atas ialah dosa yang takkan terampuni, yakni syirik (mempersekutukan Allah).

 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik bagi siapa yang ia kehendakiNya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisaa: 48)

Firman Allah Swt dalam QS An-Nisaa di atas mengisyaratkan bahwa Allah membuka pintu ampunan selebar-lebarnya bagi pendosa apapun namun tidak untuk dosa syirik. Karena pertama, syirik adalah bentuk kedurhakaan seorang makhluq kepada khaliq. Kedua, syirik sudah termasuk dalam kategori dosa tertinggi dari dosa apapun menurut Quran dan sunnah yang ganjarannnya adalah neraka, apabila si musyrik tidak menyadari dan bertaubat dari dosa-dosa syiriknya.

Sejalan dengan perihal syirik, dari Abdullah bin Mas’ud r.a Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, niscaya akan memasuki neraka,” (HR Bukhari Muslim)

Dosa yang membinasakan kedua adalah sihir. “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaithan-syaithan pada masa kerajaan Sulaiman dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir. Padahal Sulaiman tidak kafir hanya syaithan-syaithanlah yang kafir…,” (QS Al-Baqarah: 102)

Tingkatan sihir hampir dekat dengan syirik. Jika syirik adalah bentuk kedurhakaan dan pengingkaran seorang hamba pada dzat dan kuasa Allah Swt, maka sihir adalah perbuatan yang tidak hanya dilakukan atas dasar pengingkaran pada Allah, namun juga penyakit hati yang tertanam pada sesama yang menyebabkan ia buta sehingga membinasakan orang lain, bisa dalam bentuk membuat hidupnya sengsara, tertimpa penyakit, atau pun sampai menyebabkan saudara semuslim tersebut meninggal karena penyakit hatinya yang kian bengkak tersebut. Oleh karenanya, disebutkan dalam hadits, lantaran perbuatan sihir ini sungguh merugikan diri sendiri dan orang lain, maka ibadah orang yang melakukan sihir tidak diterima Allah Swt hingga ia sadar, bertaubat dan memohon maaf pada orang yang telah ia rugikan.

Ketiga, dosa yang membinasakan ialah membunuh, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan mmebunuh para Nabi yang tidak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil. Maka gembirakanlah bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih,” (QS Ali Imran: 21)

Membunuh sesama muslim adalah termasuk dosa besar baik dihadapan Allah dan tercela dihadapan manusia. Islam sangat mengatur hak-hak tiap muslim agar dapat hidup secara tentram dan saling menghargai hak-hak tersebut. Tak hanya sesama muslim, kepada kaum kafir yang jika si pembunuh ada perjanjian damai pun Allah mengatur ganjaran yang harus dilakukan si pembunuh tersebut. Oleh sebabnya, dalam Islam, masalah pembunuhan secara detail dijelaskan oleh Allah, di antaranya yakni dalam surah An-Nisaa, Allah berfirman,

“Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin yang lain kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Dan barang siapa membunuh seorang mukmin dengan tidak sengaja hendaklah ia memerdekakan hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat yang diserahkan kepada keluarga (si terbunuh) kecuali jika keluarga si terbunuh itu ridha. Jika si terbunuh itu dari kaum kafir yang ada perjanjian damai antara mereka dengan kamu, maka hendaklah si pembunuh membayar diyat yang diserahkan kepada keluarga si terbunuh serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa tidak memperolehnya (hamba sahaya) maka hendaklah ia berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat kepada Allah. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana,” (QS An-Nisaa: 92).

Dalam surah lain, agar lestarinya kelangsungan hidup manusia, tidak terjadi pembunuhan di antara sesama muslim, dan jera-nya orang-orang yang terlanjur membunuh sesama, Allah  mengatur masalah pembunuhan melalui hukum Qishash.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah yang memaafkan mengikuti cara yang baik dan hendaklah yang diberi maaf membayar diyat kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. Yang demikian itu adalah keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih,” (QS Al-Baqarah: 178)

Keempat, riba. Dalam surah Al-Baqarah, Allah berfirman, “Hai orang orang yang beriman bertakwalah pada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang yang beriman,” (QS Al Baqarah: 278)

Kelima, memakan harta anak yatim. “Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta diantara mereka. Jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu adalah dosa yang besar,” (QS An-Nisaa: 2)

Memakan harta anak yatim adalah haram hukumnya bagi tiap-tiap Muslim beriman. Adapun mereka yang memakan harta anak yatim, hakikatnya mereka hanyalah memakan api dalam perut mereka lengkap dengan neraka sebagai tempat kembalinya, seperti halnya firman Allah Ta’alaa, “Sesungguhnya orang-orang yang makan harta anak yatim dengan zalim, pada hakikatnya mereka hanya makan api di dalam perut mereka dan mereka akan memasuki neraka sa’ir,” (QS An-Nisaaa: 10)

Tepat di bulan Muharram ini, yang biasa disebut dengan lebaran anak yatim, sepatutnyalah kita menyayangi dan menyisihkan rizki untuk mereka, sebab, setiap Muslim yang mencintai anak yatim, kelak akan berada di surga bersama Rasulullah Saw, “Siapa yang mengasuh tiga anak yatim, maka bagaikan orang yang bangun pada malam hari dan puasa pada siang hari dan bagaikan orang yang menghunus pedangnya untuk berjihad tiap pagi dan sore. Kelak, mereka akan berada di surga bersamaku layaknya saudara sebagaimana kedua jari ini bersaudara (yaitu telunjuk dan jari tengah),” (HR Ibnu Majah)

Keenam, lari dari peperangan. Firman Allah Ta’alaa dalam QS Al-Anfaal, “Hai orang-orang yang beriman apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur),” (QS. Al-Anfaal: 15)

Lari dalam peperangan—diibaratkan sebagai orang yang telah menyerahkan dirinya untuk syahid di jalan Allah Swt, lalu mereka menyerah lantaran takut mati. Dalam hal ini, Allah sangat tidak suka terhadap muslim yang berkepribadian mudah menyerah seperti ini. Tak hanya dalam peperangan, jihad melawan hawa nafsu juga disejajarkan sebagai jihad yang tidak mudah ditaklukkan, sehingga seorang muslim tak boleh gentar melawannnya.

Terakhir, menuduh wanita mukmin berzina. “Sesunguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik lagi beriman (berbuat zina), mereka tertimpa la’nat dunia dan akhirat dan bagi mereka azab yang besar,” (QS An-Nuur: 23). Tuduhan berzina yang dialamatkan kepada wanita baik-baik padahal mereka tidak pernah melakukannya mengingatkan kita pada kisah Ibunda Isa as, Maryam. Dan, sudah selayaknya fitnah tersebut membawa si penebar fitnah ke dalam azab nan dahsyat, neraka jahannam sebab ia tidak hanya berdusta di hadapan manusia, tapi juga berdusta dihadapan Zat Yang Maha Mengetahui, Allah Subhaanahu Wata’alaa. Wallahu a’lam bish shawwab.

sumber: Republika/Ina F

 

Materi Kultum Ramadhan 1433 H, Kumpulan ulasan berbuah ridha-Nya.

Tidak terasa kembali, saat dibuat kumpulan ulasan kultum Ramadhan setahun lalu, kita sambut kembali berkahnya Ramadhan bak reservoar pahala penuh ampunan jika me-migrasi-kan ruh kita melalui sebuah tantangan yang impermeable, tak tembus jika hanya duduk diam atau bahkan terkantuk lelap menjalani puasa seharian  melewatkan eksploitasi emas di depan mata, dan itu pun hanya kurang lebih 30 hari saja.

Singkat kata, kumpulan ini seperti sebelumnya merupakan agregat semata dengan sumber yg dicantumkan di tiap ulasan. Sehingga apabila ada kekeliruan atau tidak sepaham, mari kita saling terbuka untuk mengkoreksi atau menambahkan bila perlu demi utuhnya nilai ukhuwah. Dan besar harapan bagi diri pribadi semoga bermanfaat bagi diri sendiri sebagai penyambung penyampai dan demi mengharapkan ridha-Nya semata.

_____________________
 
Tujuh Dosa yang Membinasakan

ads here were not made by admin, be wise