Muhammad Rasyid Rida Penggagas Ukhuwah Islamiyah

 (Suriah, 1865 M- Suriah, 1935 M)

Di tanah air, ide Rasyid Rida mendapat perhatian penting di kalangan muslimin terutama yang beraliran moderat.

Muhammad Rasyid Ridha dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga terhormat dan taat beragama. Dalam sebuah sumber dikatakan bahwa Rasyid Ridha masih memiliki pertalian darah dengan Husin bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW (Republika.co.id). Semasa kecilnya, Rasyid Ridha dimasukkan oleh orang tuanya ke madrasah tradisional di desanya, Qalamun, untuk belajar membaca Alquran, belajar menulis, dan berhitung. Berbeda dengan anak-anak seusianya, Rasyid kecil lebih sering menghabiskan waktunya untuk belajar dan membaca buku daripada bermain, dan sejak kecil memang ia telah memiliki kecerdasan yang tinggi dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.Setelah menyelesaikan belajar baca tulisnya, dalam usia sekitar 17 tahun, Rasyid Ridha melanjutkan studinya ke Madrasah Al-Wathaniyyah Al-Islamiyyah, yaitu sekolah milik pemerintah di Kota Tripoli.Rasyid Rida telah dikenal luas oleh dunia. Diantara yang paling terkenal adalah gagasannya tentang Ukhuawah Islamiah. Yaitu sebagai kesatuan umat muslim yang diwujudkan melalui kepemimpinan seorang khalifah di muka bumi. Menurutnya, hal itu penting dilakukan agar tatanan dan eksistensi Islam tetap terjaga. Karena itu Rasyid Rida sempat memprotes pelengseran sistem kekhalifahan yang terjadi di Turki semasa pemerintahan Mustafa Kamal Ataturk. Dalam masalah kepemimpinan Islam, Rasyid Rida mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul “al-Khilafah”.

 Rasyid Rida termasuk pemikir muslim yang peduli dengan dunia pendidikan. Kepeduliannya itu semakin Nampak saat melihat maraknya kebodohan di kalangan umat muslim sendiri. Pernyataanya yang sangat pragmatis adalah mengenai himbauannya bagi kalangan hartawan untuk membantu mendirikan lembaga pendidikan.

 Dalam kaitan ini, Rasyid Rida membuktikannya sendiri dalam pendirian madrasah as-Da`wah wa al-Irsyad pada tahun 1912. Sebelumnya, pada tahun 1898, Rasid Rida mendirikan majalah al-Manar yang ditujukan untuk memajukan umat Islam serta mencerahkan tradisi Islam dari berbagai ajaran yang menyimpang. Rasyid Rida menyebutkan, keterbelakangan yang dialami negara-negara muslim adalah dari tidak ditegakkannya prinsip-prinsip ajaran Islam secara konsisten seperti yang dituntunkan oleh Alquran serta hadist. Padahal ajaran Islam mencakup segala segi sisi kehidupan. Ajaran Islam mulai disusupi oleh bermacam-macam bid`ah yang membuat pengikutnya bersifat tidak konstruktif, fatalistik dan sulit untuk maju. Rasyid Rida juga melihat adanya berbagai fanatisme kalangan muslimin dalam bermazhab yang implikasinya bisa menimbulkan taklid buta serta perpecahan. Berkat berbagai ide cemerlang dan kualitas keilmuawannya, Rasyd Rida diangkat menjadi presiden kongres Suriah pada tahun 1920 dan beberapa kali menghadiri konferensi Islam. Namun pada tahun 1935, Rasyid Ridha meninggal di Suriah. Di tanah air, ide Rasyid Rida mendapat perhatian penting di kalangan muslimin terutama yang beraliran moderat.

.

.

.

.

.

*beberapa referensi tqar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s