Ibnu Haitham – Ilmuwan Muslim Penemu Optik

Ada sekitar 200 buku uang ditulisnya. Sayang, hanya segelintir yang bisa diketahui hingga detik ini.


(Basram 965 M – Kairo, 1039 M)

Adalah ilmuwan muslim di bidang fisika Lahir pada tahun 965 M di Basra, Irak, menghasilkan berbagai teori dan aplikasi yang menandingi ilmuwan dunia lainnya dalam ilmu pasti. Di barat lebih populer dengan sebutan Alhazen. Pencarian ilmunya tidak saja dilakukan di dalam negeri (Baghdad yang kala itu pusat ilmu pengetahuan, tapi juga di spanyol yang juga menjadi pusat ilmu pengetahuan orang-orang barat). Berkat kepandaiannya Ibnu Haitam pernah diminta penguasa dinasti Fatimiah untuk membangun bendungan yang tujuannya untuk mengatasi banjir sungai yang melanda Mesir. Namun karena berbagai keterbatasan “termasuk dalam pengadaan peralatan dan perlengkapan, rencan itu gagal dilakukan.

 Ibnu Haitam mempelajari berbagai obyek ilmu pengetahuan. Selain fisika, Ibnu Haitam berjasa besar dalam menjabarkan dan menjelaskan teori-teori ilmu pengetahuan mengenai optik. Ibnu Haitam dikenal sebagai pencetus teori optik yang mampu menandingi konsep yang ditawarkan ilmuwan barat seperti Ptolomeus beserta konsep pencahayaan.

Cahaya, menurutnya bergerak sejalan dengan garis lurus, masuk melalui celah terkecil dalam sebuah ruangan.

Teori ini menjadi landasan dalam memuali lahirnya penemuan alat potret. Dalam berbagai penemuan teori berikutnya, Ibnu Haitam kemudian menulisnya dalam banyak buku.

 Ada sekitar 200 buku uang ditulisnya. Sayang, hanya segelintir yang bisa diketahui hingga detik ini. Yang paling berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan adalah mengenai fisika dan optik. Untuk bidang fisika, buku yang ditulisnya berjudul Mizan al-Hikmah. Banyak temuan di bidang fisika yang diikuti oleh ilmuwan seperti, Leonardo da Vinci, Johanes Kepler serta Francis Bacon. Penemuannya yang mashur adalah mengenai hukum refraksi yang mengatakan bahwa sudut refleksi dalam pancaran cahaya sama dengan sudut masuk. Hukum tersebut berpijak pada teori seorang ilmuwan Belanda yang bernama Willebrord van Roijen Snell. Setelah melakukan berkali-kali sesi percobaan terhadap karya ilmiahnya, Ibnu Haitam kemudian menulis kitab al-Manazir, mengulas berbagai penjelasan tentang teori optik termasuk dalam memberikan komentar terhadap teori-teori yang digagas oleh ilmuwan sebelumnya seperti Aristotele, Euclides, serta Ptolomeus.

Pendapatnya meyakini bahwa mata memantulkan cahaya sehingga bisa melihat suatu benda. Juga melalui eksperimen cahaya dan penglihatannya, Ibnu al-Haitham menjelaskan fenomena kekaburan yang terjadi di kamera. Ia menjelaskan bahwa kita melihat objek dari bawah ke atas, dan bukan dari atas ke bawah seperti yang dilakukan kamera. Hal ini disebabkan karena koneksi syaraf optik dengan otak yang menganalisa dan mendefinisikan gambar. Dikabarkan pada tahun 1039, Ibnu Haitam meninggal di Kairo Mesir.

.

.

.

.

.

*beberapa referensi tqar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s