Abdus Samad Al-Palimbani Ulama Penentang Kolonialisme

Dalam beberapa tahun belajar dalam bidang guru-guru yang mumpuni keilmuwannya, al-Palimbani mendapat mandat untuk mengajarkan ilmunya di Masjidilharam.

(Palembang, 1704 M – Perbatasan Kedah Siam, 1788 M)

Ulama besar dari Palembang yang lahir pada tahun 1704 ini sempat menjadi pengajar keagamaan di Masjidilharam pada abad 18. Popularitasnya sebagai ulama yang terkenal tidak lepas dari kondisi keluarganya yang berasal dari kalangan yang taat beragama. Ayahnya yang bernama Syekh Abdul Jalil bin Syekh Abdul Wahhab bin Syekh Ahmad al-Mahdani, seorang mufti di Kedah. Abdus Samad Al-Palimbani pada mulanya banyak belajar agama terutama tasawuf dari tokoh-tokoh dan ulama yang berasal dari tanah air sepeti Abdur Rauf Singkel dan Syamsuddin as-Sumatrani. Rasa hausnya dalam menuntut ilmu telah menarik minatnya untuk berguru pada ulama-ulama di luar negeri. Al-Palibani juga banyak belajar dari ulama mashur yang sudah melegenda seperti Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz al-Maghribi dan ulama Mesir, Ahmad bin Abdul Mun`im ad-Damanhuri. Dalam beberapa tahun belajar dalam bidang guru-guru yang mumpuni keilmuwannya, al-Palimbani mendapat mandat untuk mengajarkan ilmunya di Masjidilharam.

Selain mengajar, al-Palimbani menulis banyak buku yang digunakan oleh kaum muslimin dalam kehidupan social dan religiusnya. Seperti, Hidaya as-Salikin fi Suluk Maslak al-Muttaqin (Petunjuk untuk mencapai Tingkat Muttaqin). Dalam hal sosial, al-Palimbani tidak sepakat dan menentang segala bentuk kolonialisme yang dilakukan Barat, terutama perlakuan kepada negara-negara Islam. Karena itu, al-Palimbani menghimbau kepada kaum muslimin dunia untuk melakukan jihad fi sabilillah. Himbauan al-Palimbani tidak hanya dilakukan melalui ceramahnya tapi juga diwujudkan melalui penulisan kitab yang berjudul Nasihah al-Muslimin wa Tazkirah al-Mu`min fi Fada`il al-Jihad fi sabil Allah wa Karamah al-Mujahidin (Nasihat bagi muslimin dan Peringatan bagi Mukminin Mengenai Keutamaan Jihad di Jalan Allah) ditulis pada tahun 1772  dalam bahasa Arab.

Dengan penulisan buku ini kaum muslimin diharapkan memiliki jiwa atau semangat juang dalam menegakkan panji-panji kebenaran di muka bumi. Al-Palimbani juga mengajarkan tarekat al-Khalwatiyyat as-Sammaniyyat yang meyakini bahwa seorang guru bisa menjadi wasilah antara Tuhan dengan muridnya. Sebagai jalan mencapai ketauhidan yang tinggi, al-Palimbani memberikan rujukan kepada kaum muslimin melalui kitab ratib yang berisi tentang dzikir, pujian serta doa. Al-Palimbani wafat pada pada tahun 1788 di Perbatasan Malaysia dan Siam.

.

.

.

.

.

*beberapa referensi tqar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s