Ahmad Khatib Minangkabau Ulama Indonesia Pernah Menjadi Mufti di Masjidil Haram

Ahmad Khatib produktif membela organisasi keagamaan yang memang sejalan dengan tuntunan agama.

(Bukittinggi, 1860 M – Mekkah, 1916 M)

Salah seorang ulama dari Minangkabau yang pernah menjabat sebagai imam besar Masjidilharam dalam mazhab Syafi`i. termasuk dalam tokoh muslim Indonesia yang ahli  dalam bidang fikih. Keturunan bangsawan Minangkabau yang ayahnya masih bersepupu dengan Agus Salim, salah satu pemikir Islam (cendikiawan) yang berpengaruh di Indonesia. Lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat. Banyak menulis buku yang berkaitan dengan agama dan kemasyarakatan, sekitar 49 buku yang sudah ditulis sepanjang hidupnya.

Di antara bukunya yang menjadi perdebatan adalah tentang tarekat Naqsabandiyah yang dipandangnya sesat. Bukunya tersebut berjudul Izhar Zagli al-Kazibin fi Tasyabbuhihim bi as-Sadiqin. Beberapa bagiannya menyangkut seputar perkembangan tarekat Naqsabandiyah dan membahas keabsahan tarekat tersebut dalam sudut pandang syariat Islam serta kesesuaian tuntunan yang diajarkan dari Rasulullah SAW. Ahmad Khatib melihat suatu pertentangan dalam perkembangan tarekat Naqsabandiyah yang tidak jelas dasar hukumnya. Dalam hal ini adalah dasar yang ditetapkan syariat.

Di bidang sosial, Ahmad Khatib produktif membela organisasi keagamaan yang memang sejalan dengan tuntunan agama. Pendapatnya terungkap dalam buku yang berisi pembelaan terhadap Syarikat Islam yang dituduh oleh sejumlah ulama adalah bid`ah. Bukunya berjudul  Tanbih al-Anam fi ar-Radd `ala Risalah Kaffi al-`Awam `an al-Khaud fi Syarekat Islam. Intinya bahwa organisasi syarekat Islam tidak bertentangan atau keluar dari dasar hukum agama. Selain bukan sebuah aliran, syarekat Islam sebatas organisasi sosial keagamaan yang memiliki tujuan-tujuan yang justru sejalan dengan tuntunan agama. Ahmad Khatib juga tidak sepakat dalam hal pembagian waris yang condong mengadopsi sistem matrilineal. Dalam bukunya yang sudah diterjemahkan dalam bahasa melayu ber judul al-Manhaj al-Mansyru`.  Di dalamnya, Ahmad Khatib menyatakan bahwa seluruh harta pusaka yang diwarisi kemenakan sama dengan harta rampasan. Perbuatan itu adalah dosa besar karena harta anak yatim. Ahmad Khatib juga aktif menulis berbagai kitab fikih diantaranya, Al-Khutat al-Mardiyyah (perihal niat). Iqna`an-Nufus (tentang zakat), dan masih banyak lagi. Dalam hidupnya Ahmad Khatib termasuk ulama mashur karena sempat menjadi guru dan menetap di Mekkah hingga meninggal pada tahun 1916.

.

.

.

.

.

*beberapa referensi tqar

2 thoughts on “Ahmad Khatib Minangkabau Ulama Indonesia Pernah Menjadi Mufti di Masjidil Haram”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s