Sihabuddin As-Suhrawardi Pencetus Paham Iluminasi

Cahaya Tuhan adalah cahaya dari segala yang diekspresikan dalam penciptaan-Nya seperti malaikat dan ciptaan bercahaya yang ada di alam semesta.

(Iran, 115 M – Suriah, 1991 M)

Dunia tasawuf memang kerap terjadi tarik menarik dan klaim pembenaran. Dalam kalangan sufi, Sihabuddin As-Suhrawardi dianggap sebagai tokoh kontroversial perihal paham yang dicetusnya. Sejak muda suka mengembara ke berbagai negeri untuk menuntut ilmu agama dari guru-gurunya mulai dari ilmu kalam, hadits, fikih hingga tasawuf bahkan filsafat. Dalam bidang filsafat karya yang dihasilkan diantaranya ­Bisatan al-Qulub (Taman Hati). Sihabuddin suka mengomentari karya-karya ilmuwan seperti Ibnu Sina yang diungkapkannya dalam Risalah At-Tair (Risalah Kabar Burung).  As-Suharawardi kemudian menginjakkan kakinya ke Suriah sebagai negara terakhir yang dikunjunginya di bawah kekuasaan Salahuddin al-Ayyubi. Sihabuddin terkenal dalam pahamnya, filosofi pancaran, yang menganggap bahwa Tuhan adalah cahaya dari segala cahaya sebagaimana yang tertuang dalam Quran Surat An-Nur ayat 35. Cahaya Tuhan adalah cahaya dari segala yang diekspresikan dalam penciptaan-Nya seperti malaikat dan ciptaan bercahaya yang ada di alam semesta.

Karena gagasannya itu, Sihabuddin kemudian populer dengan nama Syekh al-Isyraq karena hikmah Isyraq (iluminasi). Karena mengetahui tentang kemahakuasaan Tuhan yang serba tidak terbatas, as-Suharawardi juga meyakini adanya seorang utusan atau nabi, sekalipun tidak pernah memberikan suatu konsep syariat baru, namun utusan tersebut dianggap memiliki keistimewaan di hadapan Tuhan. Pendapatnya ini didasarkan pada Surah dalam al-Quran yaitu al-Ahzab ayat 40.

Pendapatnya lebih kontroversial saat mengklaim bahwa utusan tersebut memiliki maqam lebih tinggi dari nabi.

Pahamnya juga dipengaruhi oleh konsep paham Zoroaster yang menganut doktrin pencahayaan dan kegelapan. Namun dalam perkembangannya, paham illuminasi Sihabuddin banyak mendapat pertentangan dari kalangan ulama karena dianggap sebagai ajaran sesat yang tidak berlandaskan pada Quran dan Hadist. Pendapat serta ajaran yang ditelurkan as-Suhrawardi hanya akan menyesatkan umat dan keluar dari syariat. Para fukoha banyak menuduhnya sebagai seorang zindiq. Terlagi banyak tuduhan yang menghampirinya atas dasar rongrongan politis yang dilakukannya terhadap Sultan Suriah yakni, Salahuddin al-Ayyubi. Karena itu pula, Sihabuddin as-Suhawardi dijatuhi hukukam mati di Aleppo, Suriah pada tahun 1191.

.

.

.

.

.

*beberapa referensi tqar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s