Agus Salim Politikus Muslim Anti Kolonialisme

Agus Salim tampil sebagai pelopor yang mampu membangun harga diri umat Islam khusunya di Indonesia. Salah satu gagasannya addalah mengenai kedudukan wanita dalam Islam.

(Sumbar, 1884 M – Jakarta, 1954 M)

Terkenal sebagai politikus ulung, pejuang muslim serta pendakwah yang berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Lahir di kota gadang Sumatera Barat dan meninggal di Jakarta 1954. Pernah menjadi anggota Volkssraad (Dewan Rakyat), anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Pada masa pendudukan Jepang juga mentri luar negeri dalam kabinet Amir Syarifuddin dan kabinet Hatta. Saat Yogyakarta diduduki Belanda pada 19 Desember 1949.

Agus Salim sempat ditangkap bersama Soekarno dan diasingkan ke Brastagi, Prapat dan Bangka.

Pada tahun 1953, Agus Salim pernah memberikan kuliah mengenai kebudayaan Islam dan gerakan nasional selaku lector tamu di Universitas Cornell AD dan menerima jabatan sebagai guru besar pada Perguruan Tinggi Agama Islam Yogyakarta. Sebagai tokoh muslim, Agus Salim memiliki kontribusi besar terhadap perjuangan kaum muslimin yang ia sampaikan melalui ceramah-ceramah serta gagasannya secara produktif. Pendapatnya sangat modern serta berkaitan dengan situasi yang dialami umat Islam di masanya. Saat umat Islam mengalami eliminasi dalam banyak hal, Agus Salim tampil sebagai pelopor yang mampu membangun harga diri umat Islam khusunya di Indonesia. Salah satu gagasannya addalah mengenai kedudukan wanita dalam Islam.

Wanita cenderung mendapat diskriminasi yang mengakibatkan posisi wanita selalu berada dalam kerendahan, terutama di sektor pendidikan yang ditempuhnya. Wanita pada umumnya dipandang sebelah mata sehingga tidak banyak memberikan kontribusi apa pun dalam kehidupan beragama. Menurutnya, hal itu adalah kesalahan yang dibentuk melalui faktor kultural yang telah melembaga dalam berbagai negara di dunia Islam. Hal itu pada dasarnya justru bertentangan dengan ajaran Islam sendiri. Jalan utama yang ditempuh adalah memperbaiki sektor pendidikan dan memberikat prioritas yang sama antara laki-laki dan perempuan melalui pendidikan jasmani, pendidikan hati dan pendidikan akal. Dalam bidang politik, Agus Salim bergabung dengan Syarekat Islam dan menjadi pemimpin sepeninggal HOS Tjokroaminoto dan mengganti SI (Sarekat Islam). Setelah Indonesia merdeka, bergabung dengan partai Masyumi. Berkat jasanya yang besar, pada tahun 1961 Agus Salim dianugerahi gelar pahlawan kemerdekaan nasional.

.

.

.

.

.

*beberapa referensi tqar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s