Hamka Tokoh Nasional Berkarya Internasional

Hamka hingga hari ini adalah termasuk salah satu asset RI yang masih diakui dunia eksistensinya. Berkat jasa dan pengabdiannya, Hamka pernah meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar, Mesir

(Sumatera Barat, 1908 M – Jakarta, 1981 M)

Hamka

Nama lengkapnya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Lahir pada 16 Februari di Maninjau, Sumatera Barat tahun 1908. Kata “haji” pada awal namanya didapat setelah menunaikan ibadah haji pada tahun 1927 di kota suci Mekkah. Sejak kecil menuntut ilmu di daerahnya, Padang Panjang. Ketika mudanya menuntut ilmu di pulau Jawa melalui tokoh pergerakan nasional diantaranya HOS Tjokroaminoto. Hamka juga dikenal sebagai ulama pujangga, karena kreativitasnya yang mampu menghasilkan karya sastra yang bernilai tinggi. Karya-karyanya itu antara lain, Di bawah Lindungan ka`bah (1938), Di Lembah Sungai Nil, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (1939) serta ratusan karya lain dalam bidang sosial, budaya, politik serta agama.

Hamka hingga hari ini adalah termasuk salah satu asset RI yang masih diakui dunia eksistensinya. Salah satu karya Hamka lainnya adalah tafsir al-Azhar. Hamka termasuk ulama moderat yang dalam khutbah dan ceramahnya mampu menarik hati dan menggugah semangat kaum muslimin. Dalam beberapa statemennya, Hamka dianggap kontroversional terutama menyangkut masalah adat atau tradisi di daerahnya (Sumatera Barat) yang dianggap sebagian bertentangan dengan ajaran Islam. Sepanjang hidupnya, Hamka banyak mengabdikan diri dalam organisasi keagamaan, diantaranya adalah Muhammadiyah. Pada tahun 1946, terpilih sebagai ketua majelis pimpinan Muhammadiyah daerah Sumatera Barat hingga tahun 1949.

Di bidang politik, Hamka pernah menjabat sebagai anggota konstituante hasil pemilu tahun 1955. Setelah tidak aktif lagi di konstituante karena dibubarkan, Hamka mulai aktif mengisi ceramah-ceramah dan kajian keagamaan. Selain melalui mimbar, kajian keagamaan dilakukannya dengan menerbitkan majalah Panji Masyarakat. Namun tidak berlangsung lama setelah pendirian tahun 1959, majalah tersebut di bredel pada tahun 1960. Ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) berdiri pada awalnya tahun 1975, hamka menjabat sebagai ketua umum yang pertama dan kedua pada tahun 1980. Sebelumnya, pada tahun 1971 menjadi penasehat pimpinan Muhammadiyah. Berkat jasa dan pengabdiannya, Hamka pernah meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar, Mesir dan Universitas Kebangsaan Malaysia. Meninggal pada 24 Juli 1981 di Jakarta. Sepak terjangnya dalam memajukan bangsa patut diteladani peh seluruh rakyat Indonesia.

.

.

.

.

.

*Berdasarkan beberapa referensi tqar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s