Harun Nasution Muslim Rasionalis

Harun juga berpendapat bahwa kebangkitan kaum muslimin Indonesia tidak hanya diindikasikan melalui pemaknaan yang bersifat agamis semata tapi juga didasarkan sisi rasionalitas dalam memahaminya.

(Sumut, 1919 M – Jakarta, 1998 M)

Harun Nasution

Termasuk ulama serta pemikir muslim Indonesia yang cukup berpendidikan abad 20. Karir akademiknya melejit tajam berkat kecerdasan dan kepandaian yang dimilikinya. Pada tahun 1973 menjadi rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta selama 11 tahun. Sebelumnya. Harun Nasution adalah pegawai departemen luar negeri di Kairo dan Brussel pada tahun 1953-1960. Dalam lingkungan keluarganya, Harun berasal dari kalangan yang taat, ayahnya seorang ulama yang disegani di Pematang Siantar. Sebagai kalangan akademisi, pemikiran Harun Nasution banyak mengalami dinamika. Dalam berbagai gagasannya, Harun Nasution tidak memfokuskan pada satu subyek kajian seperti fikih saja, tapi lebih luas pada pemikiran secara global dalam memajukan umat muslimin.

Sejumlah pendapatnya, mendapat dukungan karena sifatnya yang dinamis dalam mensikapi kondisi umat Islam kontemporer. Diantara harapannya adalah bagaimana umat Islam tidak terkungkung dalam tradisi fatalistic yang hanya menerima keadaan tanpa sebuah perkembangan dan kemajuan. Memang, dalam pemikirannya, ada Harun berorientasi pada Barat yang mengusung citra sebuah kemajuan peradaban, namun tidak mengabaikan tuntunan sebagaimana yang digariskan oleh agama Islam. Dalam mensikapi sebuah kemajuan, umat Islam tidak mungkin hanya bersifat religious yang cenderung konseptis tanpa dinamika pemikiran yang matang. Harun Nasution membagi aspek-aspek ajaran agama dalam sisi yang bersifat mutlak dan bersumber pada al-Quran nur Kariim serta hadist nabi yang shaih dan pendapat ulama yang berupa ijtihad dan bersifat relatif.

Selain aktif sebagai kalangan akademis, Harun Nasution termasuk penulis produktif yang berorientasi pada masalah rasionalisme. Beberapa karnyanya diilhami oleh paham muktazilah yang memberikan bobot persoalan religisiutas pada aspek akal yang menjadi dominasi kebenaran. Seperti dalam karyanya Islam Rasional diterbitkan pada tahun 1995. Islam yang ditinjau dari beberapa aspeknya yang diterbitkan di Jakarta ole UI Press tahun 1974. Akal dan wahyu dalam Islam, Jakarta UI Press 1982. Harun juga berpendapat bahwa kebangkitan kaum muslimin Indonesia tidak hanya diindikasikan melalui pemaknaan yang bersifat agamis semata tapi juga didasarkan sisi rasionalitas dalam memahaminya. Pada 18 September 1998, Harun Nasution wafat di Jakarta.

.

.

.

.

.

*Berdasarkan beberapa referensi tqar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s