Yusuf Al-Qaradhawi Ulama Fikih Kontemporer

Yang terlanjur hendaklah surut yang tertinggal hendaklah menyusul. Atas dasar inilah banyak karya Yusuf yang menjadi pendingin pertentangan yang terjadi di internal kaum muslimin


(Lahir di Mesir, 1926)

Yusuf Al-Qaradhawi

Adalah tokoh muslim yang banyak memberikan sumbangan dalam pemikiran fikih kontemporer. Lahir di sebuah desa kecil bernama Safth Turab di Mesir tahun 1926. Sejak kecil hidup dalam kondisi yatim dalam asuhan pamannya. Kecerdasannya luar biasa, sejak usia 10 tahun mampu menghafal al-Quran. Sehingga teman-teman sebayanya memanggil Syekh, gelar kehormatan yang diberikan kepada seseorang yang memilki keistimewaan dalam pengetahuan dan agama. Kehidupannya di Mesir mulai mengalami pergeseran ketika terjadi penangkapan para aktivis Ikhwanul Muslimin oleh presiden Gemal Abdul Nasser. Sejak muda Yusuf al-Qaradhawi menjadi pengikut gerakan Ikhwanul Muslimin pimpinan Hasan al-Banna.

Akibat peristiwa itu, Yusuf al-Waradhawi meninggalkan Mesir menuju Qatar. Pada tahun 1977 mendirikan fakultas Syariah Universitas Qatar serta pusat kajian sejarah dan sunnah Nabi. Sebagai ulama yang berilmu tinggi. Yusuf al-Qaradhawi memahami arti pentingnya sebuah kemajuan yang menuntut pula pemahaman agama yang relevan dengan perkembangan itu. Banyak diketahui bahwa perkembangan peradaban telah banyak membawa pergeseran nilai-nilai religiusitas dalam paradigma yang keliru. Dalam berbagai gagasannya, Yusuf al-Qaradhawi termasuk tokoh yang memilki kontribusi besar dalam membangun kembali citra Islam yang selaras dengan al-Quran maupun hadist. Hal ini tidak saja terdapat dalam berbagai ceramah-ceramahnya, tetapi juga buku hasil karyanya yang banyak diminati umat.

Sekitar tahun 1997, terdapat sekitar 50 karyanya yang sudah dibaca kalangan umat muslimin. Diantaranya alaha  Fii Fiqh al-Aulaawiyati Diraasah Jadidah fii Dhau`il Qur`ani wa Sunnati,  mengenai fikih prioritas, Fatwa Mua`siroh, Fatwa-fatwa kontemporer, al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Madrasah Hasan al-Banna, tentang sistem pendidikan Ikhwanul Muslimin, Al-Shabr fi al-Quran, al-Quran menyuruh kita sabar. Dalam berbagai karya tersebut, Yusur Qaradhawi jiwanya yang moderat dengan prinsip Islam pertengahan. Yang terlanjur hendaklah surut yang tertinggal hendaklah menyusul. Atas dasar inilah banyak karya Yusuf yang menjadi pendingin pertentangan yang terjadi di internal kaum muslimin

.

.

.

.

.

*beberapa referensi tqar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s