Sesajen rumah baru [Bag. 02 / 2]

Perbuatan tersebut (Sesajen rumah baru [Bag. 01 / 2]) termasuk ke dalam kategori syirik karena hakikat dari tradisi tersebut tidak lain adalah memohon keselamatan dan perlindungan kepada selain Allah SWT. Sesajen yang dipersembahkan ketika hendak membangun rumah baru tersebut sebenarnya ditujukan kepada jin-jin yang menguasai wilayah tersebut. Perbuatan ini sangat dilarang dalam syariat Islam. Allah SWT berfirman, Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu manambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (QS Al Jin:6).

Ibnu Katsir Rakhiimakumullah, menjelaskan ayat di atas sebagai berikut, “Yakni kami (para jin) berpendapat bahwa kami memiliki keutamaan atas manusia karena mereka berlindung kepada kami”. Jelasnya, jika mereka singgah di sebuah lembah atau tempat yang sunyi di padang-padang pasir atau sebagainya, mereka berlindung kepada para pembesar jin di tempat tersebut agar tidak diganggu oleh para jin.  Demikianlah kebiasaan orang-orang Arab pada masa jahiliyah. Hal ini sebagaimana jika salah seorang masuk ke negeri musuh, maka ia minta jaminan keamanan(perlindungan) dari para pembesar negeri tersebut.

Mak tatkala jin-jin tersebut melihat bahwa manusia berlindung kepada mereka karena rasa takutnya terhadap jin, para jin itu pun semakin bertambah membuat ketakutan kepada mereka. Akibatnya, manusia tadi menjadi bertambah takut kepada jin-jin dan semakin berlindung kepada mereka.

Para ulam telah ijma`(bersepakat bulat) bahwa tidak boleh seseorang ber-istia`dzah (memohon perlindungan kepada selain Allah SWT.

Sebaliknya Islam telah memberikan solusi yang benar dan petunjuk yang jelas bagi umatnya dalam hal ini. Rasulullah SAW telah bersabda, “Barang siapa yang singgah (tinggal) di suatu tempat lalu ia berdoa: Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya), niscaya tidak ada satu makhluk pun yang bisa membahayakannya hinggga ia meninggalkan tempat itu.” (HR. Muslim).

Inilah petunjuk Islam yang sangat mudah untuk diamalkan. Tidak berbelit-belit sebagaimana tradisi yang dipegang oleh sebagian masyarakat, yaitu mempersembahkan sesajen-sesajen yang beraneka rupa untuk para jin dan dewa.

Tetapi bukan syaitan namanya kalau ia tidak berusaha sekuat tenaga untuk memalingkan manusia menuju kebathilan, dari tauhid menuju syirik. Jadi sebenarnya syaitanlah yang sebenarnya yang menghalan-halangi sebagian dari masyarakat dari melaksakan petunjuk Islam yang sangat mudah itu kemudian menjerumuskan mereka pada amalan syirik yang mengundang kemurkaan Allah SWT di dunia dan akhirat.

Seorang yang beriman tidak ragu sedikitpun bahwa perkataan Rasulullah SAW, adalah haq (benar) adalnya, karena apa yang dikatakan beliau adalah wahyu dari Allah SWT.

Al-Qurthubi rakhiimakumullah. Mengomentari hadist Nabi SAW di atas sebagai berikut, “Ini adalah kabar yang shahih dan perkataan yang benar. Kita telah mengenali kebenarannya secara dalil (teori) maupun praktek. Karena semenjak saya mendengar hadist ini, saya selau mengamalkannya, dan memang benar tidak ada sesuatu pun yang membahayakan sampai saya meninggalkan tempat tersebut. Tetapi pada suatu malam, saya pernah tersengat kalajengking di Mahdiyah (nama sebuat tempat), lalu saya ingat-ingat ternyata saya lupa membaca doa di atas pada malam itu”.

Satu hal yang membuat tradisi sesat tersebut dihilangkan ialah, tradisi tersebut merupakan warisan leluhur yang sangat dihormati oleh masyarakat. Sudah menjadi watak setiap masyarakat untuk menghormati dan menganggap mulia lelehur mereka. Sehingga kalau sebuah tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur tersebut dikatakan sesat, itu berarti menganggap sesat leluhur mereka. Nah, inilah salah satu alasan yang membuat masyarakat merasa keberatan jika tradisi tersebut dianggap sesat. Padahal kebenaran sejati adalah yang datang dari Allah SWT, bukan dari para leluhur. Sebuah tradisi yang bertentangan dengan petunjuk Allah SWT maka sudah selayaknya ditinggalkan. Allah SWT mencela suatu kaum yang yang ketika diseru kepada petunjuk-Nya, mereka menolaknya dengan alasan lebih tentram dan lebih senang untuk mengikuti tradisi para leluhur. Allah SWT berfirman, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, `Ikutilah apa yang telah diturunkan oleh Allah`, mereka menjawab, `(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami` (Apakah mereka akan tetap mengikuti juga), walapun nenek moyang itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah:170)

Referensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s