Pelajaran Berdisiplin dari Berpuasa

Oleh Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

.

.

Ada pertanyaan menarik dari salah seorang teman, yaitu apakah ada kaitan antara puasa di bulan Ramadhan dengan upaya membangun kedisiplinan. Selama ini ditengarai bahwa, dalam hal berdisplin, ummat Islam masih tampak rendah. Padahal setiap tahun mereka selalu menjalankan ibadah puasa. Puasa dikenal sebagai ibadah yang mendatangkan rahmat, maghfirah dan menjauhkan dari siksa neraka. Akan tetapi, aneh kalau tidak memberi dampak apa-apa pada kehidupan sosial sehari-hari, termasuk di antaranya adalah hidup berdisiplin itu.

Menjawab pertanyaan tersebut, tentu tidak mudah. Sebab, pada kenyataannya sudah menjadi pemandangan umum, bahwa disiplin di negeri ini masih belum bisa disebut hebat. Tampak misalnya di jalan raya, pengendara kendaraan sering menyerobot, memarkir kendaraan di tempat sembarangan, dan bahkan juga di tempat terlarang. Lebih-lebih lagi, kalau kita pergi ke kota besar, Jakarta misalnya, masih melihat banyak penumpang kereta bergelayutan, hingga mengabaikan keselamatan dirinya sendiri. Disiplin berkendaraan, baik pribadi atau umum, belum kelihatan mendapatkan perhatian.

Kedisiplinan tampak hanya di kelompok-kelompok tertentu, misalnya di kalangan tentara, polisi, dan juga lembaga pelayanan masyarakat yang membutuhkan professional tinggi, seperti di kalangan pegawai bank, pesawat terbang, dan sejenisnya. Lembaga pendidikan yang diharapkan berhasil membangun kedisiplinan, tetapi nyatanya juga belum semua berhasil mewujudkannya.

Komunitas yang berhasil membangun kedisiplinan itu kiranya belum tentu sebagai hasil dari pelaksanaan ibadah puasa. Di kalangan tentara dan polisi misalnya, mereka berdisiplin oleh karena telah dibentuk oleh kesatuannya. Dengan begitu mereka tampak berdisiplin. Akan tetapi, dalam kehidupan di luar kesatuan, ternyata masih terdengar kasus-kasus adanya polisi atau tentara yang berani melanggar kedisiplinan.

Jika demikian itu kenyataannya, maka cara mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut, harus dibawa pada tataran yang bersifat idealis normatif. Pada tataran impirik selama ini masih agak sulit dijelaskan, karena belum ditemukan keterangan, bahwa puasa benar-benar memberikan dampak pada upaya membangun kedisiplinan, kecuali sebatas terkait dengan kegiatan ritual puasa itu sendiri. Bahkan, agaknya lebih aneh, sekalipun di bulan Ramadhan orang berdisiplin shalat berjama’ah ke masjid, namun begitu Ramadhan berlalu, tempat-tempat ibadah tersebut menjadi sepi kembali, sebagaimana sebelum masuk bulan Ramadhan.

Keadaan tersebut jika diamati secara seksama, menunjukkan bahwa kegiatan ritual belum memberi dampak pada perilaku sosial, termasuk dalam hal berdisiplin. Bahkan hal itu tidak saja pada ibadah puasa, tetapi juga kegiatan ritual lainnya. Padahal sebenarnya, semua kegiatan ritual selalu dijelaskan ada kaitannya dengan perilaku sosial. Shalat misalnya, selain harus dilaksanakan pada waktunya, juga seharusnya mencegah perbuatan keji dan mungkar. Puasa selain harus dilakukan mengikuti waktu yang ditentukan, juga agar para pelakunya mendapatkan derajad taqwa.

Disiplin dalam menjalankan ritual sudah dijalankan secara baik, dan bahkan kadang berlebih-lebihan. Dalam memasuki dan mengakhiri bulan Ramadhan misalnya, karena terlalu berhati-hati, hingga sementara orang berselisih. Ada sementara yang menggunakan rukyat dan lainnya menggunakan hisab. Mereka ingin agar puasa dilakukan dengan penuh disiplin dan setepat mungkin. Artinya, mereka ingin memegangi ketentuan tentang berpuasa secara tepat, dan atau tidak mau mengalami kesalahan sedikitpun.

Namun berdisiplin dalam berpuasa dan juga kegiatan ritual lainnya itu belum diikuti oleh perilaku sosial lainnya sehari-hari. Padahal umpama saja disiplin dan atau kehati-hatian dalam menjalankan ritual tersebut juga dilakukan dalam kegiatan lainnya, ——– dalam mencari rizki misalnya, selalu menghitung halal dan haram, maka kehidupan kaum muslimin akan menjadi luar biasa baiknya. Korupsi, kolusi dan nepotisme tidak akan terjadi lagi, utamanya di kalangan umat Islam, sebab dalam mencari rizki, mereka harus melakukannya dengan penuh disiplin.

Rupanya antara kehidupan ritual dan kehidupan sosial masih berjarak. Kegiatan ritual belum berdampak pada perilaku sosial secara lebih nyata. Atas dasar kenyataan seperti itu, maka seringkali memunculkan pertanyaan yang bernada menggugat, yaitu mengapa banyak orang berpuasa, shalat dan bahkan juga naik haji, akan tetapi perilakunya sehari-hari belum menunjukkan kualitas yang seharusnya, sebagaimana yang diharapkan dari kegiatan ritual itu. Masih banyak orang yang sehari-hari shalat, pada setiap bulan Ramadhan menjalankan puasa, naik haji dan bahkan berkali-kali umrah, tetapi masih berperilaku tidak semestinya.

Keadaan tersebut menggambarkan bahwa, pemahaman secara utuh antara kegiatan ritual, intelektual dan sosial masih belum sepenuhnya dihayati. Puasa yang seharusnya juga berhasil membangun hidup berdisiplin ternyata masih jauh dari harapan. Oleh karena itu, adalah menjadi tugas para tokoh, pendidik dan atau guru, memberikan penjelasan dan ketauladan secara terus menerus tentang kaitan antara kegiatan ritual dengan kehidupan lain yang lebih luas, agar Islam dilihat dan dihayati secara sempurna, hingga melahirkan pribadi yang utuh dan sempurna. Wallahu a’lam.

Penulis adalah Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang  : Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s