Ya Allah jadikan umur Ramadhan ku panjang

Tak terasa hari kemenangan telah tiba, antara sedih dan senang melingkupi. Banyak penyesalan dalam diri berbarengan dengan membuncahnya optimisme masa datang berkecamuk di hati. Betapa tidak, terasa sedih karena bulan yang suci telah pergi, diri ini terasa jauh dari kata manusia bertaqwa, ibadah masih banyak kurang disana sini, astaghfirulloh. Namun berbarengan dengan hal tersebut disinilah tiba ujian sebenarnya, jika ingin di asumsikan bahwa bulan ramadhan adalah bulan latihan maka 11 bulan kedepan adalah medan operasi yang sebenarnya. Bak nasi sudah menjadi bubur, ramadhan telah usai, penyesalan hanyalah tinggal penyesalan, mungkin tingkah laku dan amalan kita dalam 11 bulan kedepan akan menjadi sebuah jawaban, apakah penyesalan ini bisa berubah menjadi senyuman atau tetap menjadi sebuah penyesalan.

Teringat wejangan ustadz lulusan al-azhar saat itu di salman,

“Parameter keberhasilan ramadhan adalah ketika umur ramadhannya panjang”

Tentu saja kita ingin ramadhan kita berhasil,lalu apa yang di maksud dengan umur ramadhannya panjang?

Umur ramadhan panjang -ustadz tersebut menjelaskan- adalah ketika ibadah-ibadah selama bulan ramadhan kita berbekas ketika ramadhan telah usai. Jika kita merenung kebelakang, ada sedikitnya 3 hal yang biasanya kita jarang lakukan tetapi di bulan ramadhan fungsi tersebut ada,yaitu :

1. Bulan Ramadhan sebagai bulan penggemblengan diri

Syahrut tarbiyah, bulan penggemblengan. Dimana dirasa atau tidak, bagi seorang yang mengaku beriman, secara langsung atau tidak langsung ibadah kita relatif meningkat dari bulan lainnya. Shaum kita, tilawah kita, qiyam kita, dhuha kita, berjamaah kita, sholat sunnah kita, sedekah kita dan ibadah-ibadah lainnya cenderung naik derajatnya sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

2. Ramadhan menumbuhkan kepekaan sosial

Syahr al Muwa-sat, berarti Bulan Kepekaaan Sosial

Mengapa puasa dapat menumbuhkan kepekaan sosial? Sebab, orang yang berpuasa telah merasakan rasa lapar dan dahaga, mulai terbit matahari hingga tenggelamnya sang surya. Temyata, tidak enak sekali kalau perut keadaan kosong dan tenggorokan kering. Padahal, rasa lapar dan dahaga kita hanya sebentar. Di Indonesia, rata-rata waktu puasa kita 13-14 jam. Itu pun kita sudah menyiapkan berbagai menu serta berbagai suplemen dan vitamin di waktu sahur dan berbuka. Di sini, kita dapat merasakan penderitaan orang lain.

3. Bulan ramadhan sebagai penjaga hawa nafsu

Semua amal anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu kecuali shaum. Maka sesungguh shaum itu semata-mata untuk-Ku dan Aku sendiri yg akan membalas {Hr. Bukhari Muslim}.

Diikatnya syaitan ketika bulan ramadhan, membuat kita lebih mudah menahan nafsu baik makan maupun syahwat yang lain. Jika hawa nafsu sudah bisa kita kendalikan maka ketika syetan dilepas kembali mereka sudah tunduk pada keinginan kita. Dengan demikian hidup kita pun dapat dijalani dengan hawa nafsu yg berada dalam keridhaan-Nya.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita sanggup dengan hasil penggemblengan selama ramadhan kemarin, kita bisa istiqomah dalam beribadah, menjaga hawa nafsu selalu dalam kebaikan dan senantiasa memilki kepekaan simpati dan empati terhadap sesama seperti ramadhan kemarin?

Ya Allah jadikan umur ramadhan ku panjang hingga penghujung usia

“Yaa muqollibal qulub, tsabbit qolbi alaa dinik”
Wahai Zat yang membolak-balikkan hati,
tetapkanlah hati kami dalam agama-Mu

[HR. Muslim, Ahmad]

wallohu’alam

.

.

.

Sumber:http://gumilarrahmathidayat.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s