Category Archives: Suplemen Muslim

Inspirasi Ramadhan 1436 H

Saudara pembaca yang budiman, kami meyakini jika anda sampai kepada beberapa tulisan sederhana kami ini anda adalah pribadi yang mengharapkan ridha Illahi sebagai penyambung hikmah quran yang disampaikan dalam bentuk dakwah apa pun itu metodenya, entah di masjid, tempat umum, rumah atau sarana lain tatkala atmosfer ramadhan menyeruak maka berlimpah pahala diraih dan salah satunya ialah melalui kotak amal jariah khususnya ketika kita melaksanakan ibadah tarawih di masjid tercinta dimanapun berada.
Kami terinspirasi saat berniat bertarawih ingin rasanya setiap malam menyisihkan uang untuk kotak amal jariyah masjid. Bayangkan jika di bulan biasa pahala berdasarkan hadist bernilai 700 kali lipat, sedangkan dibulan ramadhan ibadah sunnah pun bernilai ibadah wajib.
Namun, terkadang kita lupa membawa uang tersebut dikarekan sesuatu hal yang bermacam2 atau malah kita merasa sedikit rugi menunda nanti dan nanti.
Untuk itu, kami mencoba melahirkan sebuah produk kerajinan , berharap memberikan motivasi setidaknya mengingatkan atau memberi semangat agar tiap malam tarawih kita senantiasa beramal jariyah khususnya dalam hal ini di masjid.
Produk sederhana ini berupa dompet mini yang praktis namun memiliki nilai bonafide tinggi karena terbuat dari kulit sapi, elegan dan mewah. Hal tersebut ditujukan untuk memotivasi niat tulus bukan untuk riya (wallahualam), pun berharap selalu dipakai dari ramadhan satu ke ramadhan berikutnya.
Sekali lagi pembaca yang budiman ini, ini bukanlah semata promosi, hanya saja segmen produk ini benar adanya merupakan inspirasi bulan Ramadhan berkah. Sudah ada beberapa yang memesan namun memang tujuannya lain, yakni sebagai dompet kartu nama biasa. Maka alangkah senangnya jika kami menerima pesanan dari pribadi-pribadi yang terinspirasi oleh ramadhan berkah 1436 H melalui blog ini.
Jika Pembaca berkenan silahkan berkunjung ke halaman ini : Dompet tarawih inspirasi ramadhan.
Mohon maaf bila kurang berkenan.
Semoga segala amal ibadah yang kita jalani di bulan penuh pahala ini menjadi nilai ivestasi dan kenangan indah saat kira di surga-Nya kelak. Aaamiiin ya robbal aalamiin.

Advertisements

Rasulullah dan Istri-istrinya [bagian 2/2]

“Dengan bersikap tawadu kepada istri, mempersilahkan lutut beliau sebagai tumpuan, membantu pekerjaan rumah, membahagiakan istri, sama sekali tidak mengurangi derajat dan kedudukan beliau”.

____________________________________________

Rasulullah tidak melewatkan kesempatan sedikitpun kecuali beliau manfaatkan untuk membahagiakan dan menyenangkan istri melalui hal-hal yang dibolehkan.

Aisyah r.a. mengisahkan :

Pada suatu ketika aku ikut bersama Rasulullah saw dalam sebuah lawatan. Pada waktu itu aku masih seorang gadis yang ramping. Beliau memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Mereka pun berangkat mendahului kami. Kemudian beliau berkata kepadaku: “Kemarilah!” sekarang kita berlomba berlari”. Aku pun meladeninya dan akhirnya aku dapat mengungguli beliau. Beliau hanya diam saja atas keunggulanku tadi hingga pada kesempatan lain, ketika aku sudah agak gemuk, aku ikut bersama beliau dalam sebuah lawatan. Beliau memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Kemudian beliau menantangku berlomba kembali. Dan akhirnya beliau dapat mengungguliku. Beliau tertawa seraya berkata: “Inilah penebus kekalahan yang lalu!” (H.R. Ahmad).

Sungguh merupakan sebuah bentuk permainan yang sangat lembut dan sebuah perhatian yang sangat besar . beliau perintahkan rombongan untuk berangkat lebih dahulu agar beliau dapat menghibur hati sang istri dengan mengajaknya lomba berlari. Kemudian beliau memadukan permainan yang lalu dengan yang baru, beliau berkata : “Inilah penebus kekalahan yang lalu!”

Bagi mereka  yang sering bepergian melanglang buana serta memperhatikan keadaan orang-orang yang terpandang pada tiap-tiap kaum, pasti akan takjub terhadap perbuatan Rasulullah saw. Beliau adalah Nabi yang mulia, pemimpin yang selalu berjaya, keturunan terhormat suku Quraisy dan Bani Hasyim. Pada saat-saat kejayaan, beliau kembali dari sebuah peperangan dengan membawa kemenangan bersama rombongan pasukan besar. Meskipun demikian, beliau tetap seorang yang penuh kasih sayang dan rendah hati terhadap istri-istri beliau para Ummahatul Mukminin r.a. Kedudukan beliau sebagai pemimpin pasukan, perjalan panjang yang ditempuh, serta kemenangan yang dirain di medan pertempuran, tidak membuat beliau lupa bahwa beliau didampingi istri-istri kaum hawa yang lemah serta membutuhkan sentuhan lembut dan bisikan manja. Agar dapat menghapus beban berat perjalan yang sangat meletihkan.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa ketika Rasulullah saw kembali dari peperangan Khaibar, beliau menikahi Shafiyyah binti Huyaiy r.a. Beliau mengulurkan tirai di dekat unta yang akan ditungganginya untuk melindungi Shafiyyah r.a dari pandangan orang. Kemudian beliau duduk bertumpu pada lutut di sisi unta tersebut, dan mempersilahkan Shafiyyah r.a untuk naik ke atas unta dengan bertumpu pada lutut beliau.

Pemandangan seperti ini memeberikan kesan begitu mendalam yang menunjukkan ketawaduan beliau. Rasulullah selaku pemimpin yang berjaya dan seorang Nabi yang diutus memberikan teladan kepada umatnya. Dengan bersikap tawadu kepada istri, mempersilahkan lutut beliau sebagai tumpuan, membantu pekerjaan rumah, membahagiakan istri, sama sekali tidak mengurangi derajat dan kedudukan beliau.

Sumber: 24 jam bersama Rasulullah : Abu Aqila, lebih lengkap dengan membeli bukunya.

Rasulullah dan Istri-istrinya [bagian 1/2]

Sampai-sampai beliau pernah mengajak Aisya Ummul Mukminin r.a berlomba lari untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang beliau terhadapnya.

____________________________________________

Keberadaan Rasulullah saw sebagai pemimpin, setiap harinya tersibukkan dengan beragam persoalan umat, mengurusi dan membimbing mereka. Namun hal itu tidak menjadi alasan beliau untuk tidak meluangkan waktu membantu istrinya dirumah. Bahkan didapati beliau adalah orang yang perhatian terhadap pekerjaan di dalam rumah, sebagaimana persaksian Aisyah r.a ketika ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullahsaw di dalam rumah. Aisyah r.a mengatakan :

“Beliau biasa membantu istrinya. Bila datang waktu shalat beliau pun keluara untuk menunaikannya.” (H.R Bukhari)

Beliau bahkan ikut turun tangan untuk meringankan pekerjaan yang ada, seperti perkataan Aisyah r.a. :

“Beliau manusia sebagaimana manusia yang lain. Beliau membersihkan pakainnya, memerah susu kambingnya, dan melayani dirinya sendiri”. (H.R Bukhari)

Demikianlah contoh sebuah ketawaduan dan sikap rendah hati (tidak takabur) serta tidak memberatkan orang lain. Beliau turut mengerjakan dan membantu pekerjaan rumah tangga. Seorang hamba Allah yang terpilih tidaklah segan mengerjakan itu semua.

Sifat penuh pengertian, kelembutan, kesabaran dan mau memaklumi keadaan istri amat lekat pada diri Rasulullah. Rasulullah saw sangat penyayang, penuh kasih, berakhlak bagus , dan bergaul dengan baik terhadap keluarga, istri dan selain mereka.

Nabi Muhammad saw sangat baik hubungannya dengan istri beliau. Wajahnya senantiasa berseri-seri, suka bersenda gurau dan bercumbu rayu. Beliau selalu bersikap lembut dan melapangkan mereka dalam hal nafkah, serta tertawa bersama. Sampai-sampai beliau pernah mengajak Aisya Ummul Mukminin r.a berlomba lari untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang beliau terhadapnya.

Rasulullah saw memiliki etika berumah tangga yang paling mulia dan sederhana. Beliau selaku Nabi umat ini yang paling sempurna akhlaknya dan paling tinggu derajatnya telah memberikan sebuah contoh yang berharga. Beliau selalu berlaku baik kepada sang istri dan dalah hal kerendahan hati, serta dalam hal mengetahui keinginan dan kecemburuan wanita. Beliau menempatkan mereka pada kedudukan yang diidam-idamkan oleh seluruh kaum hawa. Yaitu menjadi seorang istru yang memiliki kedudukan terhormat di samping suaminya.

Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu menjelaskan dengan gamblang tingginya kedudukan kaum wanita di sisi beliau. Kaum hawa memiliki kedudukan yang agung dan derajat yang tinggi. Rasulullah pernah menjawab pertanyaa ‘Amr bin Al-`ash r.a seputar masalah ini. Lalu beliau menjelaskan kepadanya bahwa mencintai istri bukanlah suatu hal yang tabu bagi seorang lelaki yang normal.

Amr bin Al-`Ash r.a pernah bertanya kepada Rasulullah saw : “Siapakan orang yang paling engkau cintai ?” beliau menjawab: “Aisyah!” (Muttafaq ’alaih)

Barangsiapa yang mengidamkan kebahagiaan rumah tangga, hendaklah ia memperhatikan kisah-kisah ‘Aisyah r.a bersama Rasulullah. Lihatlah kiat-kiat Rasulullah dalam membahagiakan “Aisyah r.a.

Dari ‘Aisyah r.a ia berkata :

“Aku biasa mandi berdua bersama Rasulullah saw dari satu bejana.” (H.R. Bukhari)

Diantara kemulian akhlah Rasulullah saw dan keharmonisan rumah tangga beliau ialah memanggil `Aisyah r.a dengan nama kesayangan dan mengabarkan kepadanya berita yang membuat hatinya gembira.

Asiyah r.a menuturkan : Pada suatu haru Rasulullah saw berkata kepadanya :

Wahai ‘Aisyi (panggilan kesayangan ‘Aisyah r.a), Malaikat Jibril as tadi menyampaikan salam buatmu” (Muttaq ‘alaih)

Rasulullah tidak melewatkan kesempatan sedikitpun kecuali beliau manfaatkan untuk membahagiakan dan menyenangkan istri melalui hal-hal yang dibolehkan.

sumber:lihat di bagian 2

Rasulullah dan Istri-istrinya [bagian 2/2]

Memaknai Hijrah dengan Seutuhnya!

Rasulullah Saw bersabda :

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah atasnya “(HR. Bukhari Muslim).

Berangkat dari sabda Rasulullah Saw seperti dalam hadist di atas, tentu sebagai mu’min akan senantiasa berusaha menjaga dirinya dari ucapan,sikap dan prilaku yang menyimpang dari aturan dan hukum-Nya yang selanjutnya tetap istiqomah dalam meneliti jalan menuju ridho Allah.

Berbicara tentang hijrah dalam konteks kekinian, layaknya kiranya kita simak dan renungkan seruhan allah SWT  yang tertuju kepada Rasuluiah Saw yang hakikatnya tertuju pula kepada kita sebagai pengikutnya. Seruan Allah SWT lewat firman-Nya:

“Ya ayyuhal muddatstsir , qum fa andzir  warobbaka fa kabbir wa tsiyaabaka fa thahhir, war rujza fahjur wa laa tamnun tastaktsir, wa li rabbika fash bir.” (QS. Al Muddatstsir , 74:1-7 )

 

Kalau kita membaca risalah turunnya wahyu, tidak lama setelah turunnya ayat “Nubuwah” (lima ayat pertama dalam Surat Al Alaq) yang secara resmi menobatkan Muhammad sebagai Nabi Allah, maka tidak lama kemudian disusul dengan turunnya “tujuh” ayat pertama Al Muddatstsir, yang secara resmi mengangkat Muhammad sebagai Rasul Allah, pengemban risalah melalui “tujuh” ayat risalah tersebut.

Inilah awal diri Rasulullah Saw berfungsi sebagai Rasul Allah, membawa risalah Allah SWT untuk “mengislamkan” manusia yang saat itu dalam kondisi “jahiliyyah”. Firman-Nya diawali, “Ya ayyuhal muddatstsir” (Wahai orang yang berselimut). Kalau kita baca dalam “asbabun Nuzul” ayat ini diriwayatkan, Rasulullah Saw pada waktu itu sedang berselimut. Saat itu beliau memohon kepada istrinya, Khadijah Ra., untuk menyelimuti tubuh Beliau setelah menerima wahyu “lima” ayat pertama dalam surat al `Alaq di Gua Hira kemudian pulang ke rumah kondisi badannya menggigil.

Tetapi para ahli tafsir tidak ingin berhenti hanya pada pengertian “harfiah”nya dari kata “selimut”, yang arti harfiahnya adalah orang yang berselimut atau mempergunakan selimut untuk menghangatkan badannya sendiri. Sehingga para ahli tafsir mengartikan “selimut” dengan arti “maknawi”, wahai orang yang menyelimuti dirinya dengan tidak mau peduli dengan kondisi lingkungannya. Karena orang-orang yang berselimut identik dengan tanda-tanda orang yang terkesan hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak mau peduli terhadap sesuatu yang terjadi di sekitarnya.

Bukankah Rasulullah Saw pergi ke Gua Hira itu hanya ingin mendapatkan petunjuk dari Allah SWT tentang bagaimana membimbing umat manusia yang sudah sangat sesat pada waktu itu. Kenapa setelah beliau mendapat wahyu malah menyelimuti dirinya? Konteksnya kemudian Allah SWT berfirman, “Qum” (bangkitlah, bangunlah),  lemparkan selimut ketidakpedulianmu itu. Persoalan ummat tidak akan selesai dengan hanya ingin menyelamatkan diri kita masing-masing lalu kita tidak mau peduli dengan apa yang terjadi di lingkungan kita.

Bangkit atau bangun tidak sekedar bangkit, lalu apa yang harus dilakukan ? Tugas yang harus dilakukan adalah “fa andzir” (memberi peringatan). Lemparkan “selimut ketidakpedulian”, segeralah bangkit dan laksanakan tugas untuk memberikan peringatan agar mereka yang sesat segera meninggalkan jalan sesat kehidupan mereka, dan yang lalai agar cepat sadar atas kelalaiannya. Tidak dibenarkan sama sekali kita menyelimuti diri dengan tidak mau peduli atas kondisi yang terjadi di sekitar kita. Tetapi kita harus siap bangkit dan segera memberikan peringatan kepada masyarakat yang berada dalam jangkauan kemampuan kita. Karena tugas dakwah “bukan hanya” tugas para da`i, ulama tau para kyai saja, melainkan merupakan tugas setiap orang muslim. Salah satu keterlambatan dakwah Islam selama ini adalah “kemungkinan kesalahan persepsi” atas tugas dakwah ini yang seolah-olah tugas dakwah hanya tugasnya para da`I, `ulama atau kyai saja.

Tugas setiap orang mukmin atau muslom “tidak hanya” sekadar bisa menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi harus “saling mengingatkan” dalam kebenaran. Maka digunakanlah bahasa “wa tawaashau”, bukan “taushiyah”. Makna kata ”taushiyah” adalah nasihat dari sati pihak kepada pihak lain. Namun jika “tawaashau” sifatnya adalah “saling menasihati”. Karena perlu disadari bahwa semua manusia sangat berpotensi untuk berbuat kesalahan atau lalai.

Pada umumnya, nasihat orangtua kepada anaknya, guru kepada muridnya, pimpinan kepad bawahannya, `ulama kepada ummatnya. Namun orangtua, guru, pimpinan atau `ulama itu adalah manusia yang sangat mungkin berbuat salah. Oleh karena itu, didalam Islam, anak harus siap dengan santun mengingatkan orangtua yang berbuat kesalahan, demikian pula murid kepad gurunya, bawahan kepada pimpinannya atau ummat kepada `ulamanya. Kalau ada `ulam yang keliru atau berprinsip salah dan pernyataannya “sangat menyesatkan”, maka ummat pun “harus berani” segera mengingatkannya. Janganlah dia dibiarkan dalam kesesatannya karena akan membawa akibat penyesatan terhadap ummat yang lebih luas lagi.

Hal inilah yang selama ini terkesan tidak berjalan sebagimana mestinya. Semua harus kita benahi dengan kita mau bangit memberi peringatan. Maka dari itu, “amar ma`ruf nahyi munkar” ini adalah kewajiban setiap orang mu`min (QS. Ali Imran, 3 :104 & 110). Ini pula seperti apa yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw, “Samapaikan oleh kaliah apa yang telah kalian terima dariku walaupun hanya satu ayat”.

Lalu apa yang harus kita dakwahkan ?

Paling tidak ada “Lima” konsep dakwah yang harus ditempuh.

Konsep Pertama, kita simak lanjutan ayatnya, “wa rabbaka fa kabbir” (Allah Tuhanmu itu Akbar-kan). Yang harus kita dakwahkan kepada masyarakat adalah menyadarkan atau mengajak ummat sehingga mereka hanya mau meng-Akbar-kan Allah dalam semua aspek kehidupannya. Tidak ada yang “Akbar” kecuali Allah. “Allahu Akbr” dari segi Dzat juga dalam sisi aturan dan hukum-Nya, dan jika kita menyatakan bahwa “Allahuakbar”, maka semua selain Allah tidaklah ada yang akbar, baik hawa nafsu atau pun akal kita itu kecil. Alam jagad raya ini di hadapan-Nya. Oleh karena itu semua harus tunduk kepada Allah yang Akbar.

Konsep Kedua, “Wa tsiyaabaka fathahhir” (Bersihkanlah pakainnyamu). Kita harus sudah mulai mengupayakan mensucikan pakaian lahir terutama bathin kita. Membersihkan diri kita dari dosa dan kemaksiatan. Kita mulai mau membersihkan mental atau akhlak-akhlak yang kotor dari kehidupan masyarakat.

Konsep Ketiga, “war rujza fah jur” (segala perbuatan dosa dan maksiat itu harus segera dijauhi). Kalau kita perhatikan bahasa Al Quran itu selalu menggunakan kata “jauhi” atau “jangan dekati: bila berbicara tentang larangan (QS. Al Baqarah 2:35, Al Araf 7:19, Al An`am 6:151, Al Isra 17:34). Larangan-larangan semacam ini dimaksudkan untuk mendidik manusia agar tidak melakukan pelanggaran. Selain itu memberikan pendidikan pula kepada manusia bahwa semua sarana dan prasarana yang bisa menimbulkan kemaksiatan pun terkena larangannya.

Konsep Keempat,”Wa laa tamnun tastaktsir” (dan janganlah kamu memberi dengan maksud ingin memperoleh balasan yang banyak). Karena tugas dakwa ini adalah tugas yang mesti didasari ikhlas semata-mata karena Allah, maka janganlah kita senantiasa berharap imbalan yang lebih banya dari apa yang telah kita lakukan. Bukan berarti manusia tidak boleh memetik hasil dari jerih payah perjuangannya , tetapi tetap harus sewajarnya saja kita layak berharap. Adapun konsep selanjutnya ialah konsep yang kelima.

Konsep Kelima, ”Wa lirabbika fash bir” (maka bersabarlah (taat) bagi Tuhanmu). Oleh karena tugas dakwah ini adalah tugas yang tidak ringan, maka tentunya sangat diperlukan kesabaran dan ketahanan diri kita untuk tetap beristiqomah dalam medan perjuangan. Kita mesti tanamkan dalam diri kita sebuah kesabaran, karena tidak mustahil kita akan berhadapan dengan orang-orang yang sangat terusik dengan dakwah kita.

Ini semua resiko yang mesti kita hadapi bukan malah kita lari menginggalkannya. Tidaklah pantas bila kondisi “medan dakwah” telah mengundang kita untuk terjun langsung dalam kancah perjuangan, lantas tiba-tiba kita lari meninggalkannya. Kita sadari, sungguhlah tidak mudah bagi kita mengajak orang untuk senantiasa meng-Akbar-kan Allah dalam setiap aspek kehidupannya, tidak lah ringan kita memberikan teladan tentang kebersihan lahir terutama bathin kita sehingga tatanan kehidupan masyarakat kita bisa bersih dari munkar.

Tidak gampang pula kita memberikan arahan kepada orang untuk senantiasa mau menjauhi atau tidak mendekati perbuatan dosa, apalagi terhadap orang yang selama ini hidupnya telah bergelimang dengan dosa dan maksiat, sehingga dosa dan kemaksiatan yang dilakukannya telah dianggap bukan dosa lagi.

Walaupun terlihat betapa beratnya “medan dakwah” kita, tentunya harus tetap kita jalani dengan hanya semata-mata didasari keikhlasan untuk mencapai ridha Allah. Kesabaran dan ketahanan diri serta istiqomah memang menjadi syarat penting dari semua ini.

Semoga kita semua dapat meng-“hijrah”-kan diri kita dari hal-hal yang dapat mengundang murka-Nya ke arah jalan yang lurus menuju ridha Allah SWT.

Wallahu a`lam bish-shawab.

sumber: Lembar kajian syakhshiyyah Islamiyyah FUUI | K.H. Athian Ali M. Da’I ,MA.

Sepuluh ciri insan bertaqwa, apakah kita memilikinya?

(Disadur dari uraian ceramah K.H. Athian Ali M. Da`i, MA)

Dan segeralah kamu mencari ampunan dari Tuhan-Mu dan mendapatkan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang yang berinfak, baik pada waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebajikan (muhsinin).”

(Q.S. Ali Imran:133-134)

Hadaf Asasi” (tujuan utama) dalam suatu ayat yang populer dan selalu didengungkan tatkala di bulan Ramadhan, yakni tentang diwajibkannya shaum agar seseorang mencapai derajat muttaqien. Oleh karena itu, dengan mengetahui kriterian insane muttaqien, seseorang dapat mengukur apakah dirinya sudah shaum dan sudah pantas meraih predikat insan termulia di sisi Allah SWT (Q.S. Al Hujuraat:13).

Paling tidak, ada “sepuluh kriteria insan muttaqien.

Pertama: keimanan pada Allah SWT yang merupakan dasar keselamatan hidup seseorang, yang diumpamakan seperti akar dari sebuah pohon (Q.S. Ibrahim 14; 24:26).

Kedua:  mereka yang senantiasa melaksanakan pokok-pokok ibadah dalam kaitan hablumminallah, terutama ibadah shalat (Q.S. Al Baqarah 2; 3).

Ketiga: mereka yang bersegera mencari ampunan Allah bila tergelincir dalam perbuatan dosa (Q.S. Ali Imran 3; 133).

Keempat: mereka yang senantiaasa menginfakkan hartanya pada saat lapang (kaya) maupun pada saat sempit (miskin) (Q.S. Ali Imran 3:134). Ia selalu berpegang kepada prinsip bahwa, ‘tangan yang di atas lebih mulia di sisi Allah dibandingkan dengan tangan di bawah (H.R. Ahmad dan Thabrani).

Ada sebuah hadist Qudsi yang dapat dijadikan ukuran untuk mengetahui posisi seseorang dalam hal beramal. Dalam hadist tersebut Allah SWT menyatakan, “Aku mencintai ‘tiga’ perkara, namun cintaku pada ‘tiga’ perkara lain lebih kuat. Aku mencintai orang kaya yang dermawan, tapi kalau ada orang miskin yang dermawan Aku lebih mencintainya. Aku mencintai orang miskin yang rendah hati, tapi kalau ada orang kaya yang rendah hati, Aku lebih mencintainya. Aku mencintai orang tua yang taat beribadah, tapi kalau ada anak muda taat beribadah Aku lebih mencintainya.”

Sebaliknya,  Allah SWT juga berfirman, “Aku membenci ‘tiga’ perkara, namun ada ‘tiga’ perkara lain yang Aku lebih membencinya. Aku membenci orang miskin yang kikir, tapi kalau ada orang kaya yang kikir Aku lebih membencinya. Aku membenci orang kaya yang sombong, tapi kalau ada orang misikin yang sombong, Aku lebih membencinya. Aku membenci anak muda yang suka berbuat maksiat, tapi kalau ada orang tua yang masih suka berbuat maksiat, Aku lebih membencinya”. Orang-orang yang ingin mencapai derajat insan muttaqien tentu saja akan selalu berusaha untuk masuk ke dalam kelompok yang lebih dicintai-Nya.

Kelima: mereka yang mampu mengendalikan amarahnya (Q.S. Ali Imran 3; 134). Bila amarah sedang melanda diri seseorang, maka ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meredakannya. Pertama, istighfar. Jika dengan istighfar belum teratasi, kedua, seperti yang disebutkan dalam hadist, cobalah ubah posisi tubuhnya. Kalau sedang marah dalam keadaan berdiri, cobalah untuk duduk. Jika sedang marah dalam keadaan duduk, cobalah untuk berbaring. Bila langkah kedua juga belum bisa meradakan amarahnya, maka langkah ketiga, cobalah berwudhu. Dan, langkah keempatnya, adalah shalat. Jika belum masuk waktu shalat fardhu, maka dapat melakukan shalat-shalat sunnah asalkan tidak pada waktu-waktu yang diharamkan.

Keenam: mereka yang mau dengan lapang dada memaafkan kesalahan orang lain, baik diminta maupun tidak diminta, dan tidak menaruh perasaan dendam (Q.S. Ali Imran 3; 134). Hanya perlu diingat jangan sampai pemberian maaf tersebut justru menjadi tidak mendidik, membuat orang malah menganggap ringan sebuah kesalahan, sebab ia tahu setiap kesalahannya akan dimaafkannya. Memaafkan sepatutnya hanya kepada orang-orang yang benar-benar menyadari, mengakui dan menyesali kesalahannya.

Ketujuh:  mereka yang tergolong muhsinin, pada akhir surat Ali Imran ayat 134, Allah SWT menyatakan “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang muhsinin”. Kata, Muhsin, Hasan,  atau  Ihsan berarti baik. Hanya, ketika Rasul ditanya oleh malaikat Jibril, “Apa yang dimaksud dengan Al Ihsan?” Rasulullah menjawab “Engkau mengabdi pada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, yakinlah bahwa Allah melihatmu”.

Prinsip hidup seperti inilah yang akan melahirkan pribadi yang baik dan jujur. Sebab ia akan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT. Setiap melakukan sesuatu, ia yakin Allah SWT pasti melihat. Seseorang yang telah memiliki keyakinan tersebut, kapan pun dan dimana pun selalu menghindari dari berbuat maksiat. Dengan prinsip ihsan inilah Rasulullah SAW membina umat pada zamannya, sehingga melahirkan sahabat yang muhsinun.

Kedelapan: mereka yang senantiasa berusaha menepati janjinya, seperti yang tersirat dan tersurat dalam surat Ali Imran ayat 76. Memenuhi janji apabila berjanji, baik itu janji langsung antar dia dengan allah, maupun janji dia kepada Allah lewat orang lain, sebab janji seseorang terhadap orang lain pada hakikatnya adalah janji dia kepada Allah SWT. Janji seseorang langsung antar seseorang dengan Allah dikenala dengan istilah Nadzar. Nadzar memilki arti bahwa sebuah keinginan untuk betul-betul melaksanakan ibadah tanpa dikaitkan dengan keinginan yang lain, seperti yang biasa kita temukan dalam kehidupan masyarakat.

Bila seseorang berjanji pada orang lain, itu artinya berjanji pada Allah SWT melalui manusia. Janji seperti ini justru lebih berat, seperti halnya dosa “fahisah” jauh lebih berat dibandingkan dengan janji seseorang langsung kepada Allah SWT. Sebab ketika seseorang berjanji dengan orang lain, maka dia tidak hanya berurusan dengan orang tersebut, tapi juga berurusan dengan Allah SWT. Namun yang terjadi kebanyakan orang sangat mudah sekali mengumbar janji.

Dalam sebuah hadists Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang yang tidak memenuhi janjinya, bukan hanya saja tidak termasuk orang-orang muttaqien, tapi juga termasuk salah satu ciri orang munafik”. Dalam hadist tersebut, disebutkan tiga ciri orang munafik, yaitu jika berbicara ia berdusta, jika diberi amanah ia khianat dan jika berjanji dia ingkar.

Kesembilan: mereka yang selalu berjuang menegakkan keadilan. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk tidak berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dengan kepada taqwa, dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah maha teliti atas apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al Maidah 5; 8). Dalam ayat ini, keadilan tersebut tidak hanya terhadap orang-orang yang bermasalah, tapi juga terhadap orang yang sangat dibenci sekalipun tetap harus bertindak adil.

Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Adil dan mustahil untuk berbuat zalim. Oleh sebab itu Allah itu selalu adil, maka tidak ada seorang pun mahkluknya yang akan teraniaya dan terzalimi. Setiap hak hamba pasti akan dipenuhi oleh Allah. Tidak akan ada satu zarah pun hak seseorang yang tidak akan dipenuhi. Dengan Maha Adil-Nya juga, satu zarrah kejahatan pun pasti diperhitungkan.

Kesepuluh:  adapun kriteria kesepuluh dari insan muttaqien adalah mereka yang tidak memiliki sedikitpun rasa takut dan dukacita dalam hidupnya.

Wallahua`lam bish-shawab.

Waktu Berbuka dan Imsak di Kota Anda :Ramadhan 1432 H/ Agustus 2011

Saatnya berbuka!!!!!!

….yang menyediakan tabel jadwal shalat berbasis lokasi (kota) sehingga menyesuaikan dengan koordinat waktu.. Insya Allah “reliable” 🙂

http://www.pkpu.or.id – Kapan lagi sih kita meluangkan waktu untuk melihat jadwal berbuka atau waktu shalat maghrib selain di bulan ramadhan?? 😀 Jarang kan?! Yup,, memang untuk urusan berbuka yang baik dan benar, selain makanan yang cukup (lezat) minuman yang segar (walau dianjurkan air hangat dulu).. ah apa pun itu seleranya.. juga jgn salah waktu yang tepat untuk berbuka.. jangan sampai kurang semenit dua menit lagi.. tak masalah kalo lebih, namun tetap baik disegerakan, terlebih jika kita dalam perjalanan, semisal di bus umum, atau sarana transportasi lainnya yang sering memungkinkan bagi kita tidak terdengar suara adzan maghrib. 😀

Klik saja link di bawah ini menuju portal pkpu, yang menyediakan tabel jadwal shalat berbasis lokasi (kota) sehingga menyesuaikan dengan koordinat waktu.. Insya Allah “reliable”. Jgn lupa di “bookmark juga”

.

.

http://www.pkpu.or.id/adzan.lite.php

.

.

.

—===selamat berbuka 😀 semoga amal ibadah puasa kita utuh
dan diterima oleh Allah SWT===—

Jadwal buka puasa dan imsyak kota jakarta, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Bandung, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Surabaya, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Medan, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Irian Jaya, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Makasar, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Pontianak, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Lampung, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Palembang, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Padang, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Medan, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Yogyakata, Jadwal buka puasa dan imsyak Aceh, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Karawang, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Bekasi, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Denpasar, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Jambi, Jadwal shalat maghrib ramadhan 1432 H, jadwal buka puasa ramadhan 1432 H Agustus 2011, kapan waktu berbuka puasa kota ramadhan 1432 H/ agustus 2011, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Tanggerang, Jadwal buka puasa dan imsyak Banten, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Malang, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Solo, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Semarang, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Ciamis, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Tasilmalaya, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Garut, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Sukabumi, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Ciamis, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Depok, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Bogor, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Merak, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Cirebon, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Sumedang, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Kediri, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Meulaboh, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Tegal, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Tarakan, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Lubuk pakam, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Madiun, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Kebumen, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Majalengka, Jadwal buka puasa dan imsyak kota Pekanbaru.

Sesajen rumah baru [Bag. 02 / 2]

Perbuatan tersebut (Sesajen rumah baru [Bag. 01 / 2]) termasuk ke dalam kategori syirik karena hakikat dari tradisi tersebut tidak lain adalah memohon keselamatan dan perlindungan kepada selain Allah SWT. Sesajen yang dipersembahkan ketika hendak membangun rumah baru tersebut sebenarnya ditujukan kepada jin-jin yang menguasai wilayah tersebut. Perbuatan ini sangat dilarang dalam syariat Islam. Allah SWT berfirman, Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu manambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (QS Al Jin:6).

Ibnu Katsir Rakhiimakumullah, menjelaskan ayat di atas sebagai berikut, “Yakni kami (para jin) berpendapat bahwa kami memiliki keutamaan atas manusia karena mereka berlindung kepada kami”. Jelasnya, jika mereka singgah di sebuah lembah atau tempat yang sunyi di padang-padang pasir atau sebagainya, mereka berlindung kepada para pembesar jin di tempat tersebut agar tidak diganggu oleh para jin.  Demikianlah kebiasaan orang-orang Arab pada masa jahiliyah. Hal ini sebagaimana jika salah seorang masuk ke negeri musuh, maka ia minta jaminan keamanan(perlindungan) dari para pembesar negeri tersebut.

Mak tatkala jin-jin tersebut melihat bahwa manusia berlindung kepada mereka karena rasa takutnya terhadap jin, para jin itu pun semakin bertambah membuat ketakutan kepada mereka. Akibatnya, manusia tadi menjadi bertambah takut kepada jin-jin dan semakin berlindung kepada mereka.

Para ulam telah ijma`(bersepakat bulat) bahwa tidak boleh seseorang ber-istia`dzah (memohon perlindungan kepada selain Allah SWT.

Sebaliknya Islam telah memberikan solusi yang benar dan petunjuk yang jelas bagi umatnya dalam hal ini. Rasulullah SAW telah bersabda, “Barang siapa yang singgah (tinggal) di suatu tempat lalu ia berdoa: Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya), niscaya tidak ada satu makhluk pun yang bisa membahayakannya hinggga ia meninggalkan tempat itu.” (HR. Muslim).

Inilah petunjuk Islam yang sangat mudah untuk diamalkan. Tidak berbelit-belit sebagaimana tradisi yang dipegang oleh sebagian masyarakat, yaitu mempersembahkan sesajen-sesajen yang beraneka rupa untuk para jin dan dewa.

Tetapi bukan syaitan namanya kalau ia tidak berusaha sekuat tenaga untuk memalingkan manusia menuju kebathilan, dari tauhid menuju syirik. Jadi sebenarnya syaitanlah yang sebenarnya yang menghalan-halangi sebagian dari masyarakat dari melaksakan petunjuk Islam yang sangat mudah itu kemudian menjerumuskan mereka pada amalan syirik yang mengundang kemurkaan Allah SWT di dunia dan akhirat.

Seorang yang beriman tidak ragu sedikitpun bahwa perkataan Rasulullah SAW, adalah haq (benar) adalnya, karena apa yang dikatakan beliau adalah wahyu dari Allah SWT.

Al-Qurthubi rakhiimakumullah. Mengomentari hadist Nabi SAW di atas sebagai berikut, “Ini adalah kabar yang shahih dan perkataan yang benar. Kita telah mengenali kebenarannya secara dalil (teori) maupun praktek. Karena semenjak saya mendengar hadist ini, saya selau mengamalkannya, dan memang benar tidak ada sesuatu pun yang membahayakan sampai saya meninggalkan tempat tersebut. Tetapi pada suatu malam, saya pernah tersengat kalajengking di Mahdiyah (nama sebuat tempat), lalu saya ingat-ingat ternyata saya lupa membaca doa di atas pada malam itu”.

Satu hal yang membuat tradisi sesat tersebut dihilangkan ialah, tradisi tersebut merupakan warisan leluhur yang sangat dihormati oleh masyarakat. Sudah menjadi watak setiap masyarakat untuk menghormati dan menganggap mulia lelehur mereka. Sehingga kalau sebuah tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur tersebut dikatakan sesat, itu berarti menganggap sesat leluhur mereka. Nah, inilah salah satu alasan yang membuat masyarakat merasa keberatan jika tradisi tersebut dianggap sesat. Padahal kebenaran sejati adalah yang datang dari Allah SWT, bukan dari para leluhur. Sebuah tradisi yang bertentangan dengan petunjuk Allah SWT maka sudah selayaknya ditinggalkan. Allah SWT mencela suatu kaum yang yang ketika diseru kepada petunjuk-Nya, mereka menolaknya dengan alasan lebih tentram dan lebih senang untuk mengikuti tradisi para leluhur. Allah SWT berfirman, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, `Ikutilah apa yang telah diturunkan oleh Allah`, mereka menjawab, `(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami` (Apakah mereka akan tetap mengikuti juga), walapun nenek moyang itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah:170)

Referensi