Hadirkan (Kembali) Ramadhan di Hari-harimu

Oleh: Muhammad Hidayat

Dalam beberapa hari terakhir setelah Ramadhan berlalu, saya sering membaca kiriman dari teman-teman di jejaring sosial tentang kesedihan mereka karena ditinggalkan Ramadhan. Ya! Orang beriman mana yang tidak sedih ditinggalkan Ramadhan? Satu bulan mulia yang ternyata berlalu dengan cepat dari hadapan kita.

Kalau saat Ramadhan kita bisa giat beribadah, mengapa sekarang tidak? Bukanlah urusan pahala adalah haknya Allah? Tugas kita hanyalah ikhtiar dan mempersembahkan amalan terbaik kepada Allah dan disertai dengan do’a tentunya. 

Namun demikian, ditengah kesedihan kita tersebut, bukan berarti setelah Ramadhan berlalu kita secara keseluruhan melepaskan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, dan hanya menyisakan kesedihan karena ditinggalkan Ramadhan. Kalau selama ini kita sering menantikan kehadiran bulan Ramadhan di hari-hari kita, mengapa tidak kita sendiri yang “menjemput”-nya?

 “Menjemput” bulan Ramadhan? Mungkinkah? Kenapa tidak?!

Tentunya yang saya maksud disini bukanlah bulan Hijriyah Ramadhan, melainkan menjemput dan memelihara nilai-nilai yang terkandung paada bulan tersebut. Mengapa demikian?

Beberapa alasan yang menyebabkan kita berharap segera datangnya Ramadhan adalah karena banyaknya amalan yang bisa kita lakukan didalamnya dan pahala dari amalan tersebut akan dilipatgandakan sesuai mau-Nya Allah, insya Allah. Jika kita lihat dari segi jumlah, hanya sedikit amalan Ramadhan yang hanya bisa kita lakukan pada bulan tersebut dan tidak bisa kita lakukan pada bulan lain, yaitu: puasa wajib, shalat tarawih, membayar zakat fitrah, dan iktikaf pada 10 malam terakhir. Sisanya: Qiyamul Lail (tahajud dan witir), tilawah Quran, bersedekah, membiasakan sholat rawatib, senyum kepada orang lain, menjaga pandangan, menjaga lidah dari ghibah, memperbanyak berbuat kebaikan dan lain-lain, bukankah amalan-amalan tersebut bisa kita lakukan sepanjang waktu?

Oleh karena itu, mari kita “jemput” sendiri amalan-amalan yang dulu sering kita lakukan pada bulan Ramadhan. Jangan sampai kita beranggapan bahwa  amalan-amalan tersebut hanya sanggup dilakukan saat Ramadhan, sementara jika Ramadhan berakhir, kita tidak mau lagi melaksanakannya. Bahkan, amalan-amalan tersebut mestinya lebih meningkat saat Ramadhan telah berlalu, baik secara kualitas maupun kuantitas, karena jika demikian, kita telah berhasil menjadikan Ramadhan sebagai bulan tarbiyah (pendidikan) bagi kita semua.

Kalau saat Ramadhan kita bisa giat beribadah, mengapa sekarang tidak? Bukanlah urusan pahala adalah haknya Allah? Tugas kita hanyalah ikhtiar dan mempersembahkan amalan terbaik kepada Allah dan disertai dengan do’a tentunya. Wallahua’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s